Foto: Istimewa

Biografi Jim Morrison, Si Pujangga Rock Grup Band The Doors

Ceknricek.com -- Jim Morrison adalah salah satu vokalis band rock yang paling terkenal di dunia. Hingga saat ini, vokalis grup band The Doors itu dianggap sebagai simbol musik rock yang abadi.

Laki-laki kelahiran Florida, Amerika Serikat, hari ini 76 tahun silam, 8 November 1943, sukses dalam memadukan elemen-elemen musik dengan puisi, drama, dan aksi penggung yang liar.

Masa Kecil 

James Douglas Morrison lahir dari pasangan Steve Morrison dan Clara Clarke Morrison. Ayahnya seorang admiral Angkatan Laut Amerika. Masa kecilnya dihabiskan dengan berpindah-pindah tempat tinggal, sesuai dengan tugas kerja yang diberikan kepada sang ayah. 

Pada umur empat tahun, Jim mengalami kejadian penting dalam hidupnya dimana ia merasakan ketakutan yang sangat kuat untuk pertama kalinya. Kala itu rombongan keluarga Jim sedang berkendara melewati gurun pasir di New Mexico.  

Mereka bertemu dengan rombongan Indian Pueblo yang mengalami kecelakaan dan sekarat.  Jim menangis tersedu sembari meratap, “Aku ingin menolong, mereka akan mati..” ketika Jim beranjak dewasa, dia selalu berkata bahwa roh seorang Indian tua telah merasuki tubuhnya seumur hidup.

Biografi Jim Morrison, Si Pujangga Rock Grup Band The Doors
Sumber: NSF

Pengalaman mistis ini kelak dijadikan puisi berjudul Dawns Highway yang ada pada album solonya, An American Prayer (1971). Kisah tersebut dituangkan dalam buku No One Here Gets Out Alive: Biografi Terlaris Jim Morrison, (2010) yang ditulis oleh Jerry Hopkins dan Danny Sugerman.

Setelah fase "mistis" tersebut, Jim perlahan tumbuh menjadi remaja berkepribadian ganda yang fluktuatif. Di sisi "putih" dia adalah sosok yang cerdas, sopan, dan mempunyai daya tarik luar biasa. Tapi di sisi "hitam", Morrison merupakan sosok bengal, kasar, dan tanpa kompromi kepada siapa pun.  

Baca Juga: Jimi Hendrix: Dewa Gitar yang Mati Muda

Di relung batin Morrison bahkan masih menyisakan sekelumit misteri pada dirinya sendiri. Ia pun mulai menarik diri dari lingkungan sosial serta menekuni hobinya dengan membaca sastra-sastra klasik karya Nitzsche, Jean Paul Sartre, Franz Kafka, hingga William Blake. 

Sebagaimana generasi beat di Amerika yang tengah berkembang di kalangan anak muda waktu itu, Jim  juga terpengaruh oleh pengarang-pengarang dari generasi itu, yakni Jack Keroac. Ia bahkan pernah menyatakan keinginannya menjalani hidup seperti dalam novel Keroac, “On The Road”.  

Selain itu, ia juga terkena imbas psikoanalisis Freudian yang pada saat itu sedang populer di Amerika. Tak heran dalam karya-karyanya bersama The Doors, banyak refleksi pikiran terhadap hidup yang dilaluinya dan ia curahkan lewat lirik-lirik lagu. 

Membentuk The Doors

Setelah lulus dari George Washington  Highschool di Virginia, dan kemudian dilanjutkan kee St. Petersburg Junior College dan Florida State University, pada 1964, di umurnya yang ke 21, Jim mulai berkuliah di University of California, Los Angeles (UCLA) mengambil jurusan sinematografi. 

Di sinilah ia bertemu dengan orang yang akan menjadi pemicu kesuksesan hidupnya, Ray Manzarek dan Pamela Courson. Takdir sepertinya sudah dituliskan di langit. Jim bersama Ray kemudian sepakat untuk membuat sebuah grup rock setelah mantan pemain piano di Angkatan Darat AS itu menyadari bakat terpendam Morrison dalam menulis lirik lagu. 

Jim dan Ray kemudian mengajak Robby Krieger, seorang gitaris dari keluarga menegah atas yang memiliki dasar permainan blues dan flamenco. Pada posisi drummer, mereka juga mengajak John Densmore, yang biasa memainkan lagu-lagu jazz di beberapa cafe di AS. 

Biografi Jim Morrison, Si Pujangga Rock Grup Band The Doors
Sumber: Wikipedia

Band ini kemudian dinamakan The Doors, yang diinspirasi oleh penggalan kalimat dalam puisi William Blake yang sering dibaca oleh Morrison, The Marriage of Heaven and Hell“If the doors of perception were cleansed, everything would appear to man as it truly is, infinite.” For man has closed himself up, till he sees all things thro' narrow chinks of his cavern.” 

Mereka berempat memulai petualangan-petualangannya dengan bermain di klub-klub yang bertebaran di sekitaran Los Angeles  hingga terjadi sebuah momen tak terlupakan ketika grup ini membuat kerusuhan di di sebuah klub besar bernama Whiskey a Go Go.

Biografi Jim Morrison, Si Pujangga Rock Grup Band The Doors
Sumber: Thedoors

Baca Juga: Mengenang John Lennon, Musisi Pendiri The Beatles

Semua bermula ketika The Doors memainkan repertoar berjudul The End, sebuah lagu magnum opus milik mereka. Seperti biasa, Jim berimprovisasi di tengah lagu. Lantas dia memasukkan potongan adegan dalam Oedipus Rex milik Sophocles yang mencekam dimana dalam naskah drama tersebut dituliskan bahwa Oedipus membunuh ayahnya lalu menyetubuhi ibunya. 

Sang pemilik klub marah besar dan memecat The Doors untuk selamanya, namun ternyata hal itu membawa berkah. Penampilan brilian mereka ditonton oleh Paul Rotchild, seorang petinggi dari label rekaman Elektra. Paul kemudian mengajak The Doors bergabung dengan Elektra Records, label milik Jac Holzman dan ia pun menjadi produser band itu. 

Puncak Karier dan Kematian

Karier Jim Morrison sebagai vokalis The Doors pada awalnya sebenarnya ditentang oleh ayahnya. Ia bahkan murka ketika Jim menelepon dan mengabari keluarganya bahwa dirinya telah menjadi vokalis sebuah grup band rock. Ayahnya hanya mengatakan bahwa ide tersebut adalah ide sampah.

“Sejak itulah Jim tidak pernah pernah lagi menulis surat pada keluarganya,” sebagaimana dituliskan Jerry Hopkins dan Danny Sugerman di buku No One Here Gets Out Alive (2010:104). Masalah kecil inilah yang kelak menjadi akar permasalahan dan membuat Jim tak pernah mau lagi bertemu dengan keluarganya. 

Minggu pertama di bulan Januari 1967, album pertama Jim Morrison bersama kawan-kawannya dengan mengandalkan single pertamanya Break on Through kemudian diluncurkan. Delapan bulan berselang mereka kembali merilis album Strange Days pada bulan September.

Biografi Jim Morrison, Si Pujangga Rock Grup Band The Doors
Sumber: Pinterest.com

Dua album ini laris manis di tangga lagu populer Amerika, tentu saja lewat salah satu lagunya Light My Fire, sebuah mahakarya berdurasi 7 menit 8 detik. Lagu yang penuh bebunyian synthesizer ini bercerita mengenai kesenangan seksual dan drugs yang dilambangkan dengan simbol api yang terus menyala. 

Tak butuh waktu lama bagi Jim Morrison beserta grup bandnya untuk menjadi populer di dunia. Dalam waktu singkat nama The Doors bersanding dengan deretan band-band pesohor seperti The Beatles, The Rolling Stones, dan si pemain gitar dengan tangan kidal Jimi Hendrix. 

Tahun 1967 di tengah popularitas mereka yang naik daun, The Doors diundang untuk tampil dalam acara Ed Sullivan Show, sebuah acara kondang talkshow di AS dan dijanjikan akan ada kontrak selama enam kali setelah pertunjukan.  

Baca Juga: Biografi Freddie Mercury: Penyanyi Rock Legendaris Dunia

Sebelumnya Morrison sudah diwanti-wanti untuk mengganti salah satu lirik di lagunya Light my Fire yang terkesan eksplisit mengenai kemabukan dengan kalimat yang lebih sopan. Namun karena lupa atau sengaja, Morrison tetap menyanyikan lirik orisinalnya, dan terpaksa kontrak The Doors dengan pihak terkait dibatalkan secara sepihak. 

Selama masa jayanya sebagai vokalis grup band rock, tak jarang kontroversi juga menyelimuti tokoh ini lewat tingkah liarnya yang seringkali tidak terkontrol. Mulai dari mabuk di atas panggung hingga tak sadarkan diri, hingga tindakan tak senonoh dengan menunjukkan penisnya ke arah penonton, serta kasus-kasus lainnya yang memperburuk publisitasnya. 

Biografi Jim Morrison, Si Pujangga Rock Grup Band The Doors
Sumber: Istimewa

Tidak hanya itu, "Mr Mojo Risin" ini semakin tenggelam dalam lingkaran setan obat-obatan, seks, dan alkohol.

Awan kelabu itu datang setelah Ia merampungkan albumnya yang terkenal L.A Woman dan merilis kumpulan puisinya An American Prayer. Jim yang tengah berlibur ke Paris bersama kekasihnya, Pamela Courson, meninggal pada 3 Juli 1971.

Biografi Jim Morrison, Si Pujangga Rock Grup Band The Doors
Sumber: Wikipedia

Jim ditemukan sudah tak bernyawa oleh Pamela di bathtub apartemen Rue Beautreillis yang mereka sewa selama di Paris. Jim meninggal pada usia 27 tahun, angka sakral dan keramat bagi rombongan seniman-seniman dunia yang mati muda seperti Janis Joplin, Jimi hendrik, dan Brian Jonas. 

Jenazahnya kemudian dimakamkan di Pere La Chaise Paris, pemakaman yang juga tempat dikuburnya beberapa pesohor seperti Edith Piaf, Oscar Wilde, dan Chopin. Hingga kini nisannya pun masih menjadi salah satu tempat berkunjung semi wisata pemakaman yang cukup terkenal di Paris.

BACA JUGA: Cek FILM & MUSIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait