Foto: Ashar/Ceknricek.com

Erick Thohir Menteri Tak Biasa  

Ceknricek.com -- Jika ada yang bertanya siapa menteri yang “tak biasa” pada Kabinet Indonesia Kerja, maka Susi Pudjiastuti adalah orangnya. Kebijakan Susi menenggelamkan kapal asing, pencuri ikan di laut Indonesia, menorehkan sejarah baru bagi negeri ini. Susi legendaris. Sayang, Presiden Joko Widodo tak lagi mengangkatnya sebagai pembantunya pada Kabinet Indonesia Maju atau KIB. Susi dengan prestasinya yang gemilang kurang dihitung karena tidak memiliki pijakan politik yang kuat. Jokowi mencari menteri yang biasa saja. Bukan yang “tak biasa”.

Toh begitu, ada pendatang baru yang kini membuat gebrakan. Menteri “tak biasa” itu juga lahir dalam Kabinet Indonesia Maju. Dia adalah Erick Thohir. Gebrakannya belakangan ini membuat dirinya selalu jadi berita.

Belum genap dua bulan menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN, Erick sudah membuat sederet kejutan.  Teranyar tentulah ketegasannya memecat Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., I Gusti Ngurah Askhara alias Ari Askhara, berikut empat direksi lainnya.  Mereka dianggap terlibat dalam skandal penyelundupan moge Harley Davidson dan sepeda Brompton yang ditaksir merugikan negara sebesar Rp1,5 miliar. Penyelundupan dilakukan di pesawat baru Airbus 330-900NEO pada 17 November 2019.

Foto: Ashar/Ceknricek.com

Selain Ari, mereka yang diberhentikan adalah Iwan Joeniarto yang menjabat Direktur Teknik dan Layanan Garuda, Mohammad Iqbal yang menjabat sebagai Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha, Heri Akhyar yang merupakan Direktur Human Capital, dan Bambang Adisurya Angkasa selaku direktur operasi.

Baca Juga: Menteri BUMN Erick Thohir Pecat Dirut Garuda

Ari disebut-sebut sebagai anak emas Menteri BUMN terdahulu, Rini Soemarno. Banyak pihak menyebut kasus seperti yang dilakukan Ari sejatinya biasa saja. Penyelundupan barang mewah sering dilakukan para petinggi BUMN melalui transportasi kapal laut maupun pesawat terbang. Ari dibilang hanya sial saja. Dia sudah jadi target. Lalu ada yang menempatkan Ari sebagai korban.

Ari Askhara. Sumber: Tempo

"Zaman dulu juga sering kita dengar tuh penyelundupan-penyelundupan mobil mewah. Lewat mana kalau mobil mewah? Kan lewat kapal, pelabuhan. Nah, apakah itu sudah selesai misalnya, karena enggak ada lagi cerita-cerita seperti itu, atau gimana?," kata pengamat BUMN, Toto Pranoto, kepada Suara.com, Senin (8/12).

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, Saut Situmorang, menambahkan bahwa modus penyelundupan barang mewah seperti itu sudah cerita lama. "Kalau itu menjadi modus, saya kira itu sudah menjadi cerita yang sangat umum," ujarnya.

Sumber: Kompas

KPK juga menemukan modus serupa pada sejumlah bandar udara serta pelabuhan. Penyelundup barang mewah biasanya ingin menghindari pajak. "Sejak awal saya di KPK sudah mencoba masuk di Tanjung Priok, langsung membuka kontainer. Pergi ke bandara melihat sendiri mereka melakukan ada barang yang tidak cocok dengan yang disebutkan. Itu modus itu seharusnya dihentikan," kata dia.

Di luar itu, banyak pihak memang sudah gerah dengan sepak terjang Ari. Kini bereka bersyukur Ari dipecat. Pihak yang sukacita atas keputusan Menteri Erick salah satunya adalah Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani. "Saya sebagai ketua PHRI, dari sektor pariwisata, gembira banget," kata Haryadi Minggu (8/12).

Sumber: Tribunnews

Selama ini, Ari dianggap sebagai sumber masalah dari meroketnya harga tiket sejak akhir 2018. Ari melakukan praktik kartel. Akibatnya, tingkat hunian kamar hotel terus mengalami penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, hingga akhir kuartal III-2019, penurunan tingkat hunian kamar hotel masih mengalami penurunan, yakni dari rata-rata 58,95 persen pada tahun sebelumnya, menjadi 53,52 persen persen atau turun 5,43 poin.

Baca Juga: Menteri Erick Nggak Usah Bingung

"Kita yang komplain paling berat karena dia penyebabnya, dia menciptakan praktik kartel. Dia mendikte pasar, sampai Traveloka dipencet sama dia, segala macam, enggak fairlah," tutur Haryadi.

Kini, dia berharap, setelah pemecatan tersebut, persoalan-persoalan yang menyebabkan melambung tingginya harga tiket pesawat hingga meroketnya harga kargo selama ini bisa terurai dan membuat iklim usaha di sektor tersebut kembali kondusif.

Larangan Membagi Souvernir

Kembali ke soal gebrakan Menteri Erick. Sebelum melakukan bersih-bersih di Garuda, terobosan pertama pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1970 ini adalah pembentukan satuan tugas untuk segera merampungkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Dengan hadirnya task force diharapkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tidak molor karena ditargetkan dapat beroperasi pada 2021.

Foto: Ashar/Ceknricek.com

Erick juga melakukan sederet aksi bersih-bersih di tubuh BUMN. Diawali dengan memangkas jabatan deputi di Kementerian BUMN. Pada era Rini Soemarno, jabatan deputi diisi oleh tujuh orang. Erick memangkasnya menjadi hanya tiga orang saja. Demi efisiensi. 

Gebrakan Erick lainnya adalah mengeluarkan surat edaran SE-8/MBU/12/2019 tentang larangan memberikan souvenir atau sejenisnya. Ia melarang BUMN membagikan atau memberikan suvenir dalam setiap penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Maksud larangan itu adalah untuk efisiensi dan perwujudan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) pada Persero dan Perum.

Radikal

Erick memang pantas disebut menteri “tak biasa”. Di tengah sejumlah menteri masih mencari-cari pekerjaan, ia sudah pangkas kanan, pangkas kiri terhadap ketidakberesan. Menteri yang masih mencari-cari kerjaan itu sebut saja Menteri Agama, Fachrul Razi. Dia tiba-tiba mengurus dan bicara hal-hal yang tidak penting. Majelis taklim yang sudah menjadi tradisi di tengah umat Islam, ingin ia urus. 

Menko Polhukam, Mahfud MD, sempat merecoki Menteri Erick dengan isu radikalisme di tubuh BUMN. Mahfud sepertinya mau meniru Menko Maritim dan Investasi, Luhut Panjaitan, yang bisa masuk ke banyak kementerian. Mengurus yang bukan urusannya atau memaksa memasuk-masukkan sebagai urusannya. 

Baca Juga: Menteri BUMN Tunggu Pengakuan Direksi Garuda Soal Kisruh Barang Selundupan

"Saya mendapatkan laporan yang beliau dapatkan dari timnya di mana beliau juga memberikan masukan mengenai radikalisasi yang ada di BUMN," ujar Erick bercerita soal pertemuannya dengan Mahfud di Kantor Kemenkopolhukam, Kamis (5/12).

Erick tampaknya tidak gagap. Maklum saja, sebelum menjadi Menteri, Erick Thohir, seorang pengusaha. Ia pendiri Mahaka Group, perusahaan induk yang fokus pada bisnis media dan entertainment. Erick sempat mengakuisisi klub sepak bola, Klub Italia yang berlaga di seri A yakni F.C. Internazionale Milano (Inter Milano) pada November 2013. Ia dipercaya sebagai presiden klub ke-21 dalam 106 tahun sejarah klub tersebut. Bersamaan dengan itu, ia juga memiliki klub sepak bola Amerika, D.C. United dan juga pernah sebagai pemilik klub bola basket NBA Philadelphia 76ers. Lebih dari itu, Erick adalah Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres kemarin.

Sumber: Bisnis

Banyak yang berharap Erick fokus pada pembenahan BUMN. BUMN yang sakit tapi melahirkan raja-raja kecil. BUMN yang utangnya kian menggunung. Perusahaan pelat merah yang beroperasi dengan cara tradisional di era digital. Perusahaan negara yang sudah lari dari bisnis intinya.

Jangan sampai Erick terganggu oleh hal-hal yang tidak produktif, macam isu-isu radikal itu. Survei Parameter Politik Indonesia telah menyimpulkan bahwa Indonesia saat ini tidak sedang dalam keadaan darurat radikalisme. Menurut Indef, kini Indonesia di bawah bayang-bayang krisis ekonomi. Jangan anggap enteng itu!

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait