Ganja Vs Corona? | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Ganja Vs Corona?

Ceknricek.com -- Masuk akalkah bahwa ganja dapat menjadi penawar (vaksin) virus ganas yang belum pernah ada taranya dalam sejarah umat manusia ini?

Namun kalau orang sudah  putus asa, segalanya niscaya akan dicoba. ‘Kan tidak ada ruginya?

Tapi bukan itu yang menjadi pertimbangan peneliti ganja dari Universitas Syah Kuala, Banda Aceh, Profesor Musri Musman, untuk mewacanakan bahwa ganja adalah penangkal Corona/Covid-19, sebagaimana diberitakan sejumlah media cetak di Indonesia baru-baru ini. Dan ini bukan lelucon April Mop.

Menurut sang profesor (dia bukanlah sembarang orang, tetapi pakar dengan gelar profesor) ganja memiliki kandungan senyawa atau ekstrak bernama Cannabidiol atau CBD yang dinilai mampu menghentikan pengeluaran antibodi berlebihan. 

Kalau profesor yang mengatakan demikian, kita-kita ini siapalah? Beranikah kita membantahnya? 

Bagaimana pun adalah suatu kenyataan bahwa yang namanya ganja, kalau dicampur dengan tembakau, dan kemudian dihisap laksana rokok dapat mengantarkan penggunanya ke alam surgawi. Tergantung perasaan sebelum mengisapnya, begitu kata mereka yang sudah menjadi “ahli” atau lebih tepat pencandu ganja. 

“Kalau dihisap dalam keadaan sedih, maka kita bisa jadi lebih sedih. Kalau dihisap dalam keadaan gembira, maka payah menahan tawa. Bukan itu saja, bahkan kita dapat jadi sangat penyayang, hingga nyamuk yang hinggap dan menghisap darah kita seraya menularkan bibit penyakit malaria pun rasanya tidak sampai hati diusir, apalagi dibunuh,” kata seorang pemadat ganja kepada penulis sekian puluh tahun silam di Medan. 

Dan ganja dapat menjadi obat bagi mereka yang kurang nafsu makan. Dan belakangan ini ganja juga memang sudah diakui oleh sejumlah pemerintah, termasuk di Australia, sebagai sesuatu yang “berkhasiat”.

Baca juga: Upaya Memahami Hikmah Dibalik Musibah

Pada hakikatnya ganja pernah menjadi bahan pembuat tali atau sumbu lampu atau bahkan bahan pakaian. Celana jins Levis yang pertama terbuat dari bahan hasil olahan ganja. Awalnya ganja tidak terbilang bahan terlarang (atau narkotika). Di Amerika, gagalnya upaya pemerintah memberantas alkohol/miras  (The Prohibition dari tahun 1920 s/d 1933) mewariskan satuan alat negara khusus yang dibentuk untuk mengamankan ketentuan itu. Mereka serta merta jadi penganggur.

Menurut ceritanya, pimpinan satuan tugas itu kemudian meminta kepada salah seorang taipan media waktu itu di Amerika, Randolph Hurst, untuk mengampanyekan bahaya ganja (marijuana) yang waktu itu banyak ditanam di Meksiko. Ketika ganja kemudian dinyatakan sebagai bahan terlarang satuan tugas yang sebelumnya mencoba memberantas miras itu dialihkan ke tugas baru – memberantas ganja.

Di Australia sendiri pun ganja baru dinyatakan sebagai bahan terlarang dalam tahun 1926, disusul oleh Indonesia (Hindia Timur) dalam tahun 1927, dan Inggeris 1928.

Ganja yang dalam bahasa Arab disebut hashish (rumput) menyumbangkan sebuah kosa kata ke dalam wadah bahasa Inggeris yang kemudian di-Indonesiakan menjadi asasin (penjelasan panjang lebar mengenai asal usul kata ini dapat dibaca dalam buku ASASIN oleh Penulis – Nuim M. Khaiyath – terbitan Republika). 

Apakah ganja memang mujarab atau mempan untuk menggasak Corona masih “Wallahu a’lam”. Yang jelas di Australia mulai awal tahun 2018 para penderita penyakit-penyakit tertentu sudah dibolehkan menggunakan produk ganja yang diimpor dari luar negeri melalui Badan Bahan Teraputik (Therapeutic Goods Administration).

Ganja Vs Corona?
Sumber: Istimewa

Dalam sebuah laporan kedokteran di Australia, apa yang kemudian disebut sebagai “ganja/cannabis medis” dapat diberikan (dengan resep) oleh dokter untuk penderita penyakit kejang-kejang (hingga tidak sadarkan diri), penyakit sawan, gangguan kejiwaan, seperti waswas yang berlebihan, anoreksia, insomnia (tidak bisa tidur) dan stress akibat trauma (seperti yang suka diderita oleh polisi dan tentara), serta sejumlah gangguan kesehatan lainnya.

Ternyata ganja obat atau medis ini begitu populer hingga membludak laksana jamur di musim hujan. Pada akhir bulan Maret 2018 (sekitar sebulan sesudah dilegalisir oleh pemerintah) hanya 91 permohonan untuk mengeluarkan resep oleh dokter yang disahkan.

Dengan dipermudahnya urusan untuk mengeluarkan resep, maka dokter lebih “ringan tangan” menulis nota untuk pembelian ganja obat dari farmasi, biasanya dalam bentuk minyak. Dalam tahun 2019, jumlah resep yang dikeluarkan dokter menjamur laksana virus corona:

Januari 2019 670

Februari 1019 738

Maret 2019 1043

April 2019 1108

Mei 2019 1370

Juni 2019 1566

Juli 2019 2207

Agustus 2019 2889

September 2019 2911

Oktober 2019 3594

November 2019 3404

Desember 2019 3682.

Menurut Badan Bahan Teraputik 40% permohonan untuk mengeluarkan  resep untuk ganja obat datang dari para dokter yang praktek di Negara Bagian Queensland di mana terdapat jumlah besar pensiunan. Tidak sedikit dari resep-resep yang dikeluarkan para dokter adalah untuk mereka yang mengidap rasa sakit kronis.                   

Baca juga: Dokter Tuhan                                                      

Diperkirakan berdasarkan statistic ini maka dalam tahun 2020 ini sekitar 50-ribu resep untuk minyak ganja akan dikeluarkan oleh para dokter di Australia.

Diperkirakan kini terdapat 76 produk ganja obat di Australia, dan setiap pasien yang mendapat resep untuk membeli ganja obat ini harus bersedia mengeluarkan antara 50 s/d 100-ribu rupiah sehari. Namun ada juga pasien yang karena penyakitnya harus bersedia mengeluarkan sampai 500-ribu rupiah sehari. 

Menurut suatu kajian di Australia terdapat 5-juta orang yang menderita rasa sakit kronis, dan bahwa sekitar 150-ribu orang menggunakan ganja obat secara gelap untuk menyembuhkan atau menghilangkan rasa sakit mereka.

Industri ganja obat ditaksir bernilai lebih dari 1-miliar dolar setahun di Australia. 

Bayangkan seandainya ganja dapat menyembuhkan atau menaklukkan Corona alias COVID-19. Sementara itu di Australia baru Wilayah Ibukota Canbera yang membolehkan seseorang “pemakai” ganja untuk menanam tidak lebih dari 2 batang pohon ganja, untuk keperluan “rekreasi”. Begitu.

BACA JUGA: Cek BREAKING NEWS, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait