Foto: Tribunnews

In Memoriam BJ Habibie, Selamat Jalan Bapak Teknologi Indonesia

Ceknricek.com -- Nama Baharuddin Jusuf Habibie dipastikan terpatri di sanubari segenap rakyat Indonesia. Ekpresi, gestur, dan aksennya yang khas membuat sosoknya berbeda dibanding tokoh-tokoh yang lain. Kini, ia telah tiada. Presiden ketiga RI itu mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (11/9) sekitar pukul 18.05 WIB.

Jauh sebelum BJ Habibie menjadi presiden ke-3 Indonesia, ia sudah melalang buana. Namanya terkenal di dunia penerbangan setelah ia menemukan teori penting yang hingga hari ini digunakan semua industri penerbangan di seluruh dunia.

Teori yang dinamakan Teori Habibie itu ia temukan setelah menempuh pendidikan teknik penerbangan di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH), Jerman. Ia memulai pendidikannya di Jerman tahun 1955 dan menuntaskannya tahun 1965.

Untuk mengenang jasa dan kiprahnya semasa hidup, berikut biografi singkat BJ Habibie yang dirangkum dari berbagai sumber.

Masa kecil

BJ Habibie lahir di Parepare pada 25 Juni 1936 dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Ayahnya seorang ahli pertanian asal Gorontalo. Sementara Ibunya dari Yogyakarta.

Sumber: Istimewa

Habibie adalah putra keempat dari delapan bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga religius. Ayahnya selalu membacakan ayat suci Alquran satu sampai dua juz saat ia kecil.

Baca Juga: Anies Baswedan: Jutaan Orang Tua Ingin Anaknya Seperti BJ Habibie

Habibie menyatakan, lantunan kalam Illahi yang dibacakan Ayahnya selalu membuat dirinya tenang. Kebiasaan sejak kecil yang sering mendengarkan Alquran memberikan pengaruh yang positif pada dirinya, sehingga pada usia 3 tahun, Habibie sudah lancar membaca Alquran.

Masa pendidikan

Memasuki usia sekolah, Habibie ditinggalkan sang Ayah ketika usianya menginjak 14 tahun. Sepeninggal Ayahnya, sang Ibulah yang menggantikan peran dan berjuang secara ekstra untuk bisa menanggung biaya hidup seluruh anggota keluarga. Pada akhirnya, sang Ibu memutuskan menjual rumah, dan membawa anak-anaknya pindah ke Bandung.

Habibie menamatkan pendidikannya di SMAK Dago Bandung (1954), lalu melanjutkan kuliah di ITB yang saat itu bernama Universitas Indonesia Bandung dengan jurusan Teknik Mesin.

Belum selesai kuliahnya di ITB, ia kemudian mendapat beasiswa dari Mendikbud saat itu untuk bisa melanjutkan pendidikannya di Jerman. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pemerintah memang sedang banyak membiayai anak-anak bangsa bersekolah ke luar negeri untuk bisa menimba ilmu. Di antara ratusan pelajar, Habibie saat itu masuk ke rombongan kedua yang khusus dikirim ke negara luar.

Di Jerman, Habibie bersekolah di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule dengan jurusan Teknik Penerbangan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang.

Sumber: Istimewa

Sampai di Jerman, Habibie memang telah bertekad untuk sukses mengingat jerih payah dari sang Ibu dalam membiayai pendidikan hingga kehidupannya. Di tahun 1955, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana diberi beasiswa penuh. Di antara teman-teman yang lain, hanya Habibie yang memiliki paspor swasta atau paspor hijau.

Baca Juga: BJ Habibie Berpulang, Pemerintah Tetapkan 3 Hari Berkabung Nasional

Semasa liburan, ia memanfaatkannya emas untuk belajar, ikut ujian dan juga mencari uang agar bisa membeli buku. Jika masa libur habis, seluruh kegiatannya dikesampingkan dan hanya fokus pada belajar. Hal ini berbeda dengan teman lainnya dimana ketika libur mereka lebih suka bekerja dan mencari pengalaman tanpa memikirkan ujian.

Caption

Di tahun 1960, Habibie meraih gelar Diploma Ing di Jerman dari Technische Hochschule dengan predikat cum laude atau sempurna. Nilai rata-rata adalah 9,5.

Menikah

Habibie melanjutkan studi ke Technische Hochschule Die Facultaet de Fuer Maschinenwesen Aachen untuk mendapatkan gelar doktor. Di tahun 1962, BJ Habibie menikah dengan Hasri Ainun Habibie lalu memboyongnya ke Jerman.

Sumber: Istimewa

Kondisi ekonominya saat itu terbilang sulit. Tak jarang ia harus berjalan kaki ke tempat kerja demi menghemat pengeluaran. Perjuangan yang sama juga dirasakan sang istri. Ia harus mengantre untuk bisa mencuci baju di tempat umum.

Lewat perjuangan panjang, Habibie akhirnya meraih gelar Doktor Ingenieur dari Technische Hochschule Die Facultaet de Fuer Maschinenwesen Aachen dengan nilai summa cum laude. Nilai rata-ratanya sangat sempurna: 10.

Sumber: Brilio

Rumus faktor Habibie

Salah satu yang terkenal dari Habibie adalah rumus yang diberi nama Faktor Habibie. Rumus yang satu ini dapat menghitung keretakan hingga ke atom pesawat terbang sekalipun. Keberhasilan itu membuat ia diberi julukan Mr Crack. Di tahun 1967, BJ Habibie mendapatkan gelar Profesor Kehormatan atau Guru Besar dari ITB. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi ITB, Ganesha Praja Manggala.

Sumber: Istimewa

Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, Habibie mendapatkan banyak pengakuan dari lembaga kelas internasional mulai dari Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt, lembaga penerbangan di Jerman, The Royal Aeronautical Society London yang ada di Inggris, The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace dari Prancis, The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences dari Swedia dan bahkan The US Academy of Engineering dari Amerika Serikat.

BJ Habibie juga pernah mendapatkan penghargaan yang amat bergengsi, yaitu Edward Warner Award dan Award von Karman dimana penghargaan ini hampir setara penghargaan Hadiah Nobel.

Sumber: kinibisa

Proyek pesawat N250 Gatot Kaca

Di Indonesia sendiri, Habibie kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT selama 20 tahun dan memimpin perusahaan BUMN Industri Strategis selama 10 tahun. Pada 1995, ia berhasil memimpin proyek pembuatan pesawat yang diberi nama N250 Gatot Kaca, dimana menjadi pesawat yang dibuat pertama oleh Indonesia.

Baca Juga: Presiden Ketiga RI BJ Habibie Tutup Usia  

Pesawat yang dirancang oleh BJ Habibie ini bukanlah pesawat yang dibuat secara asal-asalan melainkan sudah dipikir dan didesain matang dengan ilmu yang dimilikinya. Pesawat yang diciptakannya ini mampu terbang tanpa oleng berlebihan dengan teknologi canggih yang sudah dipersiapkan untuk 30 tahun ke depan.

Sumber: tribunnews

Untuk melengkapi desain awalnya saja, BJ Habibie butuh waktu selama 5 tahun. Pesawat ini juga menjadi satu-satunya pesawat yang turboprop di dunia dimana menggunakan teknologi Fly By Wire.

Saat itu, pesawat N250 Gatot Kaca ini telah terbang hingga 900 jam dan selangkah lagi bisa masuk sertifikasi untuk Federal Aviation Administration. Di zamannya, PT IPTN sudah membangun pabrik pesawat hingga ke Amerika dan Eropa demi bisa menjaring pasaran di negara itu. Meski begitu banyak yang memandang remeh pada pesawat buatan asli Indonesia tersebut. Di bawah komando BJ Habibie, IPTN berhasil mempekerjakan hingga 16.000 orang.

Namun ketika IPTN sedang berjaya, Presiden Soeharto memerintahkan penutupan IPTN beserta industri strategis lain karena alasan krisis moneter di tahun 1996 sampai 1998. Sebanyak 16.000 karyawan IPTN pun terpaksa bekerja ke pabrik pesawat di negara lain. Mereka ke Brazil, Kanada, Eropa hingga Amerika.

Menjadi presiden RI

Setelah IPTN ditutup, BJ Habibie kala itu masih menjadi Menteri Riset dan Teknologi kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden di tanggal 14 Maret 1998 untuk mendampingi Presiden Soeharto. Namun hanya beberapa bulan setelah beliau menjabat, gejolak politik pun tak bisa terhindarkan. Presiden Soeharto yang sudah bertahta di kursi presiden selama puluhan tahun akhirnya lengser dengan pengunduran dirinya pada 21 Mei 1998.

Sumber: Wikimedia

Lengsernya Presiden Soeharto pun secara otomatis menjadikan BJ Habibie menggantikannya menempati kursi nomor satu di Indonesia. Ia menjadi presiden sekitar satu tahun, mewarisi kondisi Indonesia saat itu yang memprihatinkan.

Presiden BJ Habibie terus berusaha membangun kembali Indonesia. Beberapa keputusan penting yang dilakukan adalah dengan lahirnya UU tentang Otonomi Daerah. Mata uang Indonesia di mata asing saat itu yang mencapai 15 ribu rupiah per dolar bisa ditekannya menjadi hanya di bawah 10 ribu rupiah saja.

BJ Habibie pun dipaksa lengser setelah pidato pertanggungjawaban pada 1999 ditolak MPR. Sejak itu, ia bermukim di Jerman meski sesekali pulang ke Indonesia.

Ditinggal Istri

Lama tak terdengar kabar, pada 22 Mei 2010, rakyat Indonesia dikejutkan dengan kabar duka. Hasri Ainun Habibie, sang istri yang setia mendampinginya selama 48 tahun meninggal dunia di Jerman.

Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ia pernah mengatakan, Ainun adalah mata untuk bisa melihat hidupnya. Ainun juga pengisi kasih hidupnya, baik di kala susah hingga senang.

Sumber: Istimewa

Selama 48 tahun menikah, BJ Habibie dan Ainun tidak pernah terpisah. Sang istri selalu mengikuti kemanapun suaminya pergi. Bahkan BJ Habibie sendiri tidak tahu menahu Ibu Ainun mengidap kanker overium yang sudah lama dideritanya. Ibu Ainun memang tak pernah mengeluh. Habibie baru mengetahui istrinya mengidap penyakit itu, tiga hari sebelum meninggal.

Jenazah Hasri Ainun Habibie diberangkatkan pada 24 Mei 2010 dari Jerman. Almarhumah dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan keesokan harinya, Sabtu 25 Mei 2010.

Sumber: tribunnews

Kini, BJ Habibie menyusul istri yang sangat dikasihinya itu. Menurut Menteri Sekretaris Negara Pratikno, jenazah almarhum akan dikebumikan di samping makam istrinya, Kamis (12/9). Pemakaman akan dilaksanakan menggunakan upacara militer. "Insyaallah upacara dipimpin Bapak Presiden," kata Mensesneg Pratikno.

Selamat jalan, Pak Habibie.

BACA JUGA: Cek POLITIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini. 



Berita Terkait