Foto: Tempo

KPK Kok, Berubah Jadi Memerangi Taliban?

Ceknricek.com -- Status bernada satir bertebaran di media sosial, begitu Irjen Pol Firli Bahuri ditetapkan Komisi III DPR RI sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, pada Kamis (12/9). Ada yang pro dan kontra. Kedua kubu saling ledek.  Ada status berbunyi, “selamat datang KPK, Kantor Polri Kuningan” dari warganet yang kontra, dijawab “selamat tinggal KPK syariah” oleh warganet yang pro.

Ada pihak-pihak yang secara rapi dan kompak menggiring opini seolah-olah terpilihnya Firli membawa misi menyingkirkan “Taliban” yang kini bercokol di KPK. Mereka menganggap KPK selama ini sebagai KPK syariah. Aneh tapi nyata. Terasa dungu, tapi kok, dipelihara.

Dari namanya saja sudah jelas, lawan KPK adalah korupsi. Bukan yang lain, apalagi Taliban. Aneh, tentu saja, jika misi Firli kembali ke KPK untuk menyingkirkan “Taliban”. Narasi Taliban ini belakangan terus dikembangkan. Pembicaraan menjadi tidak nyambung. 

Busyro Muqoddas menduga narasi polisi atau kelompok Taliban berasal dari pihak Istana Kepresidenan. Eks komisioner KPK ini menduga cara demikian dilakukan untuk mempolitisasi dan melemahkan KPK. "Ini dipolitisir, dan dipolitisasi itu ada indikasi dari Istana, orang Istana," tuduh Busyro, Sabtu (14/9).

Di sisi lain, Ketua KPK, Agus Rahardjo, menuding narasi Taliban diembuskan untuk mendiskriditkan KPK. “Itu tidak benar,” ujarnya, usai melantik Direktur Penuntutan dan Sekjen KPK, di Gedung Merah Putih KPK, Senin (16/9).

Sumber: Merah Putih

Baca Juga: Silakan Jadi Koruptor Asal Jangan Radikal

Sudah Lama

Sejatinya, istilah Polisi Taliban di internal KPK sudah ada sejak lama. Bahkan, sebelum Busyro menjabat sebagai wakil ketua pada periode 2011-2015. Mulanya, Busro sempat heran terhadap istilah Taliban itu. Namun, seiring berjalannya waktu, ia pun mengerti bahwa istilah itu hanyalah kiasan dan digunakan untuk menggambarkan militansi para penyidik.

busro kpk
Sumber: Win Net News

Baca Juga: KPK: Markas Polri Cabang Kuningan

Taliban tidak ada konotasi agama. Taliban di KPK juga tak terhubung dengan gerakan nasionalis Islam Sunni yang menguasai Afghanistan sejak 1996 sampai 2001. Juga tidak memiliki kontak dengan pemimpin Taliban, Mullah Mohammed Omar. Taliban di KPK adalah ikon. Taliban menggambarkan militansi orang-orang Afghanistan. Ini tentang militansi para penyidik KPK. Sebutan ini tidak menghinakan tapi sebagai rasa kagum.

Baru belakangan ini istilah polisi Taliban dikaitkan dengan agama tertentu. Bahkan istilah itu diidentikan dengan radikalisme Islam. Padahal para “Taliban” itu terdiri dari penyidik dengan latar belakang agama yang beragam. Ada penyidik beragama Kristen, Hindu dan Islam.

Agus juga mengatakan bahwa aktivitas keagamaan di KPK beragam. Dia merujuk pada surat pengunduran diri komisioner KPK Saut Situmorang. "Itu hari Jumat ada yang jumatan di sini. Kemudian ada juga di lantai 3 kebaktian. Jadi di mana Talibannya? Kalau kamu lihat surat Pak Saut, apa itu cermin Taliban? Sama sekali jauh," ujar Agus.

KPK Baru

Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan, salah satu yang berjuluk Taliban. Dia adalah muslim. Hanya kebetulan saja ia bercelana cingkrang dan berjenggot. Novel tak keberatan disebut radikal, asal berkaitan dengan pemberantasan korupsi.  “Kaitannya dengan apa disebut radikal? Justru ketika seseorang mempunyai jenggot seperti saya, kadang menggunakan celana yang sedikit sesuai dengan sunah Rasul, terus dipermasalahkan," ucap Novel, 20 Juni lalu.

Sumber: Tirto

Lalu, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja “menjual’ isu radikalisme di tubuh KPK. Rupanya ini pula yang membawa panitia seleksi (pansel) calon pimpinan KPK menjadi salah arah.

Pansel terfokus pada isu radikalisme, ketimbang isu integritas serta rekam jejak para capim KPK. Inilah yang menurut Busro membuat Firli lolos menjadi hingga tahap akhir tahap seleksi. Isu polisi Taliban justru dikembangkan oleh pansel. “Mengapa baru kali ini pansel itu enggak punya pekerjaan, enggak punya konsep," ujar Busro. "Ada tiga guru besar, (tapi) materi psikotesnya pakai isu-isu radikalisme, tapi pertanyaan-pertanyaannya itu childish banget. Misalnya kalau ada bendera Merah Putih menghormati itu bagaimana. SMP itu," katanya.

Agus selanjutnya mempersilakan jika kelompok yang menuding adanya paham radikalisme untuk melakukan penelitian di KPK secara mendalam. "Isu itu tujuannya untuk mendiskreditkan KPK," katanya lagi. "Jadi silakan kalau mau melakukan penelitian," ujar Agus.

Baca Juga: Perlawanan Pimpinan KPK: Cicak Vs Komodo!

Peneliti dari LIPI, Prof. Syamsuddin Haris, mengaku ia bersama peneliti LIPI lainnnya selama lebih tiga tahun melakukan penelitian di tubuh lembaga anti korupsi tersebut. “Tidak ada taliban,” cuitnya.

Sumber: Warganegara.org

Menurutnya, sebutan ada kelompok Taliban di KPK atau istilah Polisi Taliban Vs Polisi India adalah upaya dari insitusi lain di Indonesia untuk melemahkan KPK sehingga kemudian bisa menguasai KPK. “Itu adalah isapan jempol belaka untuk membenarkan saudara tua (baca: polisi) masuk dan mengobok-olok KPK," tegas Syamsuddin Haris melalui akun Twitternya, Sabtu (14/9).

Syamsuddin termasuk guru besar yang secara konsisten dan keras mengkritik upaya pelemahan KPK. Menurutnya, DPR sekarang bukan akan merevisi UU KPK, tetapi akan membuat KPK baru yang jadi macan ompong.

KPK yang tak lagi memerangi korupsi melainkan memerangi Taliban atau yang lain. Begitulah? Aneh.

BACA JUGA: Cek Berita AKTIVITAS PRESIDEN, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini. 



Berita Terkait