Mencari IGD dan Swab PCR Mandiri Oleh Jilal Mardhani | Cek&Ricek
Sumber: Istimewa

Mencari IGD dan Swab PCR Mandiri Oleh Jilal Mardhani

Catatan untuk Pemerintah #bagian satu

Ceknricek.com--Kebetulan saya mencatat, tahap demi tahap yang dilalui dan dilakoni. Terlebih saat sempat tertular virus corona kemarin.

Tentu catatan yang dimaksud bukan dengan menuliskan semua rincian kejadiannya di buku. Sebab, kemudahan kehidupan modern kita hari ini, telah menyediakan aneka 'jembatan keledai' yang memungkinkan menarik kembali ingatan. Agar mudah merekonstruksi kejadiannya lagi. Melalui jejak-jejak rekaman komunikasi maupun transaksi yang dilakukan.

Misalnya kemudahan dan kenyamanan dalam hal berkirim pesan. Ketika terbaring di salah satu ranjang pada unit gawat darurat, saya bertanya kepada ananda yang sedang berdiskusi dengan tenaga medis di depan, lewat layanan whatsapp. Semisal,

"Bagaimana nak? Bisa tes PCR nya?"

Sepanjang belum dihapus, rekaman pesan tersebut tentu akan tinggal di memori telpon genggam saya. Lengkap dengan waktu pengiriman dan pembicaraan selanjutnya.

Begitu pula dari catatan transaksi keuangan. Sebab di masa kini, hampir segala pembayaran dilakukan secara non tunai. Baik lewat kartu kredit, debit, uang elektronik, dan sebagainya. Semua dilengkapi dengan sistem administrasi canggih yang memungkinkan kita kembali menelusuri. Kapan, apa, berapa, dan dengan siapa transaksi terjadi. Tinggal kemudian mengkaitkannya dengan memori kita untuk memutar kembali potongan rekaman kejadian yang sudah berlalu.

Untuk hal-hal tertentu yang sangat spesifik, baru kemudian saya menuliskannya. Tentu secara digital.

+++

Saya akan menyampaikan sejumlah catatan yang saya anggap penting, perlu, bahkan harus. Tentu secara bertahap. Bagian demi bagian. Mengenai pengalaman pribadi yang terkait penanganan covid-19 di negeri kita.

Atau begitulah sepatutnya yang saya (kita) harapkan. Setelah kerap mendengar berbagai program dan langkah-langkah yang selama ini tak hanya menyita anggaran Negara. Tapi juga sumberdaya lain yang sudah amat terbatas.

Bagaimanapun, pandemi yang memporak-porandakan berbagai sendi kehidupan ini, sudah berlangsung hampir setahun. Tanpa atau belum dengan tanda-tanda perkembangan pengelolaan masalah yang lebih baik.

Saya memulainya dari tatanan (sistem) informasi dan pendataan. Hal yang semestinya kini telah jauh dikembangkan lebih baik. Apa lagi di tengah kemudahan teknologi dan sumberdaya yang tersedia.

Hal yang bolak-balik disuarakan sejumlah pihak.

+++

Dalam bayangan yang dilandasi pengetahuan dan pengalaman empiris saya, sungguh bukan hal yang rumit -- bahkan sebetulnya amat sederhana -- untuk membangun suatu sistem informasi dan pendataan dasar yang amat perlu kita miliki sekarang.

Bahkan mestinya sudah dikembangkan dan tersedia sejak setahun yang lalu.

Saya datang ke RS Cinere pada Selasa, 22 Desember 2020 malam itu, sudah dengan kekhawatiran tertular virus corona. Anak yang memeriksa suhu tubuh saya saat tiba di rumah dari bandara, menyarankan untuk segera melakukan swab tes PCR.

Kami memang tak tahu soal ketersediaan layanan itu di sana. Saya yang memutuskan RS Puri Cinere karena paling dekat jaraknya dengan kediaman kami.

Mengunjungi instalasi gawat darurat adalah fikiran terpendek bagi siapa saja yang merasa perlu mendapat pertolongan kesehatan segera. Begitulah makna kata darurat yang dilekatkan pada fasilitas itu. Mencari yang terdekat dan mudah dijangkau, adalah langkah kemudian yang alamiah dilakukan.

Instalasi gawat darurat sendiri merupakan fasilitas yang bukan dikunjungi dengan perjanjian. Sebab pasien yang datang atau dibawa ke sana, dalam status gawat atau darurat. Mereka ke sana berharap mendapat pertolongan pertama. Sebelum diarahkan pada penanganan selanjutnya yang dibutuhkan.

+++

Pengalaman mengunjungi Instalasi Gawat Darurat RS Puri Cinere malam itu, menunjukkan secara telanjang, betapa kacau-balaunya sistem informasi dan pendataan lembaga pemerintah yang diserahi urusan menangani pandemi saat ini.

Bahwa pada malam itu, saya maklumi RS Puri Cinere tak memiliki layanan tes PCR yang kami inginkan, adalah satu hal. Tapi, kehadiran saya sebagai pasien yang khawatir tertular covid, adalah hal lain.

Saya sesungguhnya seperti ikan yang sedang mendatangi bubu. Di tengah modernitas hari ini, amat sangat wajar jika saya berharap pemerintah sudah menyediakan sistem informasi dan pendataan yang jauh lebih pantas. Untuk mengidentifikasi saya sebagai 'ikan yang telah masuk ke dalam bubu' mereka yang katanya peduli dan ingin mengatasi pandemi ini.

Setidaknya saya berharap, petugas rumah sakit itu bertanya -- karena kebijakan dan prosedur yang telah digariskan instansi berwenang misalnya -- tentang gejala-gejala yang saya rasakan lebih jauh.

Bukan sekedar mengukur suhu, menanyakan sudah berapa lama, lalu meminta saya berbaring di salah satu ranjang di sana.

+++

RS Puri Cinere terletak di perbatasan DKI Jakarta dan Depok. Termasuk wilayah metropolitan di mana ibukota Republik Indonesia ini berada. Tempat pusat dari hampir segala kekuasaan. Pemerintah, politik, dan dunia partikelirnya.

Saya kira amat-sangat mudah bagi Kementerian Kesehatan, atau satuan-satuan khusus yang dibentuk Presiden untuk menangani pandemi Covid-19 ini, membangun sistem informasi dan pendataan bagi 'ikan yang masuk sendiri ke bubu' seperti saya kemarin. Apalagi pada fasilitas kesehatan rumah sakit yang berjarak 'sepelemparan batu' dari pusat kekuasaan yang sedang heboh juga sibuk, menangani pandemi ini.

Jika terhadap RS Puri Cinere -- atau Mayapada Lebak Bulus yang kemudian saya kunjungi -- faktanya sudah demikian.  Bagaimana mungkin kita membayangkan yang lebih baik terjadi di Penajam Paser, Kalimantan Timur sana?

+++

Katakanlah RS Puri Cinere tak dapat menangani dan melayani kebutuhan saya waktu itu. Selain swab tes yang tak tersedia, mungkin karena instalasi perawatannya penuh, atau yang lain. Akan tetapi, sangatlah pantas dan sepatutnya, lembaga pemerintah yang ditugaskan untuk menangani pandemi yang telah berjalan hampir setahun ini, memiliki sistem informasi yang mampu mendata, memguntit, dan menggiring. Agar saya termonitor dan tak membikin masalah lebih heboh. Karena bisa menularkan yang lain.

Bukankah saya saat itu belum pasti mengidap virus corona?

Betul. Tapi saya datang karena alasan kekhawatiran penyakit menular yang sedang menyebabkan krisis Nasional bahkan dunia. Soal terbukti positif atau negatif, adalah tahap berikut. Saat itu semestinya Negara melalui pemerintah, harus langsung memonitor, menguntit, dan menggiring saya.

Caranya sangat mudah.

+++

Kini sangatlah mudah dan murah untuk membangun sistem jaringan informasi dan pendataan yang dimaksudkan di atas. Dengan aplikasi sangat sederhana, pemerintah dapat menyediakan, sekaligus mewajibkan seluruh rumah sakit yang ada, untuk mendata saya dan menempatkannya pada jaringan informasi.

Apa sulitnya menanyakan lebih detail, soal gejala-gejala yang saya alami, dan memasukkannya ke dalam bank data berjaringan seandainya telah disediakan?

Karena saya datang dengan kecurigaan terhadap virus yang jadi musuh bersama dan penuntasannya sedang digalang pemerintah, maka patut dan sangat wajar jika semua pihak bahu-membahu. Bukan membatasi diri pada kepentingan sempit masing-masing. Termasuk saya sebagai terduga yang mungkin mengidap virus itu.

Seharusnya pemerintah sudah menyediakan perangkat pendataan pasien seperti yang disebutkan di atas tadi. Meminta seluruh fasilitas kesehatan yang menemukan, untuk mencatat dan memasukkan data pribadi dan gejala-gejala standar yang saya alami. Selain urusan demam, tentu perlu ditanya yang lain. Soal sakit kepala, nyeri persendian, tentang penciuman dan rasa, selera makan, diare, dan seterusnya.

Lalu soal aktivitas di tengah keramaian terakhir. Seperti halnya saya yang baru melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Sistem kemudian dapat mentautkannya dengan aplikasi e-HAC Indonesia yang telah wajib diisi oleh semua pelaku perjalanan. Kemudian menandai data saya dalam kategori 'pemantauan awal'.

Jika tidak demikian, apakah gunanya e-HAC yang kerap menyebabkan penumpang yang tak tahu dan belum menyiapkannya, harus menumpuk di jalur pemeriksaan saat baru mendarat di bandara itu?

Resiko akibat menumpuk karena mengisi aplikasi e-HAC tersebut, menjadi tak sepadan bukan?

Sebab faktanya, saat saya mendarat di Kualanamu maupun Soekarno-Hatta, sekitar 2/3 penumpang tak mengetahui dan baru mengisinya setelah mendarat. Sebelum diizinkan melewati petugas yang memeriksa dan memindainya.

+++

Bahwa kemudian RS Puri Cinere tak bisa memberikan pelayanan yang saya inginkan -- ketika itu saya memang berharap dapat melakukan swab PCR segera -- adalah hal lain.

Tapi setidaknya, pemerintah dapat mengembangkan kebijakan dan prosedur baku, agar petugas rumah sakit Puri Cinere, menyampaikan protokol isolasi mandiri yang perlu saya jalani. Agar saya tak menularkan siapa pun, seandainya memang positif. Meski harus pulang dulu ke rumah karena di sana sedang tak tersedia fasilitas untuk menampung.

Bahkan sebetulnya, andai rumah sakit Puri Cinere malam itu tak memiliki layanan swab PCR 24 jam, layanan yang memudahkan pasien sangat mungkin dilakukan. Sebab, proses swab sendiri bukan hal rumit. Itu sebabnya sejumlah penyedia jasa dapat mengadakan layanan yang mendatangi rumah pasien.

Maka sangatlah dimungkinkan, sebelum saya pulang, prosedur swab dilakukan dulu oleh petugas IGD Puri Cinere. Kemudian mengirimkannya ke laboratorium yang menyelenggarakan layanan.

+++

Fakta yang terjadi, saya hanya berbaring di salah satu ranjang unit gawat darurat rumah sakit itu, kurang lebih 15 menit. Lalu kami begitu saja meninggalkannya ketika anak saya mendapat kepastian layanan tak tersedia.

Kini saya teringat, mudah-mudahan ranjang yang sempat saya tiduri selama kurang lebih 15 menit malam itu, mereka bersihkan dengan semestinya. Sebab hasil swab saya keesokan harinya terbukti positif. Tentu beresiko bagi pasien lain yang malam itu datang setelah saya dan menggunakannya. Andai alas tempat tidur dan bantal yang saya gunakan, tak diganti dan disterilisasi semestinya.

Saya yakin, RS Puri Cinere tak pernah tahu, bahwa saya, pasien yang Selasa 22 Desember 2020 malam sempat terbaring di IGD mereka, keesokan harinya dinyatakan positif mengidap virus corona.

Celakanya, saya pribadi pun lupa dan tak mengabari. Hingga malam ini saat menyadarinya dan telah dinyatakan negatif.

Tapi seandainya pun ingat, bagaimana cara saya  memberitahukan mereka?

Itulah guna aplikasi sederhana yang sangat mendasar untuk menjaring informasi dan data 'ikan yang sudah masuk ke bubu' yang dimaksudkan di atas.

+++

Catatan bagian awal ini, mungkin akan menguak pendekatan mekanistis yang sangat kental dengan proses administrasi dan birokrasi bertele-tele pemerintah kita. Alih-alih membangun orkestrasi kerjasama dengan pihak lain (non pemerintah).

Sesama instansi lembaga pelat merah saja, koordinasi dan kerjasama yang pantas dan layak (proper), masih amat sulit kita harapkan. Bahkan kepada pasien yang beruntung mampu dan mau membiayai dirinya sendiri.

Terbayangkah mereka yang kehidupan kurang beruntung dan berada lebih jauh lagi dari pusat kekuasaan?

Baca Juga : Biskuit Kelor untuk Melawan Stunting Oleh Nasihin Masha


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait