Foto: Istimewa

Mengenang Arthur Rimbaud, Si Anak Angin dari Prancis

Ceknricek.com -- Jika ada seorang penyair berbakat luar biasa yang mati muda namun kehadirannya mampu menjadi tonggak sejarah sastra baru dunia, Jean Arthur Rimbaud adalah sosok tersebut. Penyair bohemian yang terkenal di dunia sebagai pengelana yang telah menjelajahi tiga benua ini meninggal hari ini 128 tahun yang lalu, tepatnya pada 10 November 1891 setelah melakukan serangkaian petualangan yang mendebarkan.

Selama hidupnya yang berumur pendek Rimbaud pernah menjelajahi dari Eropa, Afrika hingga Asia ketika Ia mendaftar sebagai serdadu Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) Kolonial Belanda dan sempat desertir sebagai Tentara di Jawa.

Si Anak Ajaib

Dunia mengenang Arthur Rimbaud sebagai penyair revolusioner asal Prancis dengan julukan si anak ajaib, lewat puisi-puisinya yang luar biasa dan memberontak terhadap tatanan kesusastraan lama di sana. Sayang, dia berumur pendek. 

“Rimbaud adalah seorang inovator hebat dalam puisi Prancis,” tulis Harold Bloom dalam Poets and Poems (2009: 227). Namun, sebagian besar hidup Rimbaud nampaknya dihabiskan dalam petualangan dan kegilaan seorang remaja untuk melihat dunia yang luas terbentang.

Lahir pada 20 Oktober 1854 dari keluarga kelas menengah di Roche, Charleville, wilayah timur laut Prancis. Jean Nicolas Arthur Rimbaud merupakan anak kedua dari seorang kapten tentara dan seorang putri petani setempat. 

Pada zamannya Rimbaud adalah bocah ajaib dan murid teladan para guru di College de Charleville, lewat kecemerlangannya dalam mata pelajaran terutama sastra. Rimbaud juga seorang pembaca yang rakus yang segera membiasakan diri dengan para penulis besar Prancis baik dari masa sebelum dia dan sesudahnya.

Arthur Rimbaud telah menulis puisi sejak kecil. Ia bahkan pernah mengirimkan puisi pada Napoleon Bonaparte yang berisi 16 baris berbahasa Latin pada saat berumur 13 tahun. Ada catatan bahwa Napoleon menerima puisi tersebut, namun puisi itu akhirnya hilang. 

Umur 16 tahun Rimbaud sudah memenangkan hadiah pertama untuk puisi Latin di Concorus Academique, (diterbitkan pertama kali pada Januari 1870 di La Revue pour Tous). Pada umur yang masih belasan inilah Ia menunjukkan kejeniusannya dalam menuliskan puisi yang hadir menerobos konvensi sastra pada zamannya yang sangat memperhatikan ritme, rima, dan struktur.

Baca Juga: Mengenang Seniman Multi Gaya Henri Matisse

“Terhadap segala macam dia berontak. Terhadap aturan, terhadap tradisi, terhadap kemapanan, dan tentu saja terhadap tradisi berpuisi,” tegas Prof. Okke Kusuma Sumantri  Zaimar, guru besar Sastra Prancis Universitas Indonesia, dilansir dari Kompas.

Tahun 1871, Rimbaud berhubungan dekat dengan penyair simbolis, Prancis Paul Verlanie. Hubungan yang awalnya hanya sebatas persahabatan guru dan murid itu kemudian berubah menjadi percintaan yang sengit antar mereka berdua di tengah hedonisme kehidupan Prancis. Verlain yang tujuh belas tahun lebih tua dari Rimbaud bahkan hingga menceraikan istrinya yang tengah hamil.

Verlaine dan Rimbaud. Sumber: Istimewa

Hubungan mereka kandas hanya berselang dua tahun, ketika mereka putus Verlain sempat menembak lengan Rimbaud dalam keadaan mabuk dengan pistol kaliber 7 mm. Verlaine diadili dengan tuduhan percobaan pembunuhan dan ditahan di Brussel. Sedangkan Rimbaud kembali ke keluarganya di Prancis dan  menyelesaikan dua karya: Season in Hell (1873) dan Illuminations (1886).

Si Bohemian Gila Petualang 

Setelah berhasil menyelesaikan karyanya, Rimbaud lalu memutuskan untuk meninggalkan kehidupan kaya raya sebagai sastrawan muda terkenal di Prancis dan memilih untuk menjadi pengelana gembel dengan berkelana mengelilingi dunia. Pada tahun 1875 ia berangkat untuk melihat dunia dan dalam perjalanannya selama empat tahun, Ia telah menyebrangi pegunungan Alpen, pergi ke Mesir, Afrika, dan Asia dengan menumpang berbagai kapal yang melintasi berbagai benua. 

Britannica menuliskan Rimbaud sempat bekerja sebagai buruh di Siprus, menjadi pelayan dan pedagang kopi di Aden (Yaman) dan mengirim dagangannya ke Harar (Ethiopia). Ia menjadi orang kulit putih pertama dan melakukan perjalanan ke wilayah Ogaden di Ethiopia, laporan ekspedisi ini diterbitkan oleh Perhimpunan Geografi Nasional Prancis pada tahun 1884.

Sumber: Wikipedia

Tahun 1876 dalam perjalannanya Rimbaud sempat mendaftarkan diri sebagai calon serdadu kerajaan Hindia Belanda yang pada saat itu mendapat bayaran yang cukup menggiurkan, 300 gulden. Ia segera mendaftar sebagai serdadu Koninlijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) dan dikirim ke negeri jajahan Hindia Timur.

Menurut buku Orang Indonesia & Orang Prancis, dari abad XVI sampai abad XX (2006:474), karya Benard Orleans, pada 10 Juni 1876 Rimbaud bersama calon serdadu lain dikapalkan dengan kapal uap Prins van Oranje dari pelabuhan Den Helder, Belanda, mereka tiba di Batavia pada 21 Juli 1876 setelah lebih dari satu bulan terombang-ambing di lautan. Setelah 10 hari ditempatkan menerima latihan lanjutan di di barak tentara yang dulunya adalah sebuah pabrik teh di bilangan Mester Cornelis (sekarang Jatinegara), Rimbaud kembali dinaikkan ke kapal  Minister Fransen van de Putte bersama 176 anggota lain dari Tanjung Priok dengan tujuan Semarang.  

Stasiun Kereta Api Tuntang tempat Rimbaud turun di Jawa tengah. Sumber: Istimewa

Sesampainya di kota Lumpia ini pada 2 agustus 1876, rombongan serdadu itu kemudian naik kereta api ke Kedung Jati. Setelahnya Rimbaud dan kawan-kawannya ini dibawa ke Salatiga dengan menaiki kereta dan turun di Stasiun Tuntang. Ia lantas bertugas di Benteng Willem I (Benteng Pendem) yang terletak di sekitar Salatiga-Ambarawa.

Baca Juga: Ernest Douwes Dekker Indo yang Memuliakan Pribumi

Benteng pendhem Ambarawa. Sumber: Tropenmuseum

Tidak diketahui apa yang kemudian dilakukan Rimbaud dalam barak militer. Ada yang menuliskan Ia tidak tahan melihat kekejaman kolonialisme hingga akhirnya kabur ke pedalaman hutan Jawa. Ada juga yang menuliskan jiwa petualangannya mulai ‘haus’ karena terlalu lama berada di tansi sehingga Ia memilih untuk kabur.

Pada tanggal 15 Agustus, kurang dua minggu Ia berada di tangsi Rimbaud tidak kelihatan di apel harian dan gereja dalam perayaan hari besar bagi umat Katolik; Kenaikan Bunda Maria ke Surga. Setengah bulan berlalu, pada 30 Agustus 1876 ia dianggap hilang dan muncul berbagai asumsi bahwa Rimbaud telah melakukan desersi dan memilih untuk kabur.

Desersi atau mangkir dari kesatuan militer adalah perbuatan gawat, demikian Graham Robb, sejarawan Inggris penulis biografi Rimbaud dikutip dari Kompas. “Ini sangat serius. Sungguh! Walaupun kedengarannya seperti petualangan yang menyenangkan dan menegangkan,” kata Robb.

Memang benar adanya seperti yang diungkapkan Robb, pilihan Rimbaud bukannya tanpa resiko. Jika tertangkap ringan-ringannya mungkin hanyalah hukuman kurungan bagi dirinya, namun kondisi di Hindia Belanda pada saat itu sedang terjadi Perang Aceh (1873-1904), hukuman tembak di tempat bisa saja diberikan kepada Rimbaud jika tertangkap.

Kembali Ke Eropa dan kematian

Tidak ada yang tahu pasti bagaimana Rimbaud bisa berhasil pulang kembali ke Eropa karena Ia tidak dapat berbahasa Belanda, Melayu, dan Jawa, demi menghindari pertemuan dengan aparat dan tentara kolonial. Namun setidaknya jelang tahun 1877, Rimbaud sudah berada di rumahnya di Charleville-Mezieres, Prancis.

Baca Juga: Mengenang Goethe: Sastrawan Terbesar Jerman

Sumber: Istimewa

Setahun menjelang di Kota Mode, Rimbaud meneruskan petualangannya dan tiba di Larnaca, Siprus di mana Ia kemudian bekerja  di perusahaan konstruksi sebagai mandor penambang batu. Ia juga sempat menetap di Ethiopia dan Aden dan berdagang senjata untuk melawan imperialisme Italia demi membantu orang Ethiopia.

Pada tahun 1891 kaki kiri Rimbaud mesti diamputasi karena terkena kanker ketika Ia berada di Marseilles. Rimbaud kemudian meninggal tepat hari ini 128 tahun yang lalu pada 10 November 1891 di usia 37 tahun dan dimakamkan di Charleville. 

BACA JUGA: Cek OPINI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: ThomasRizal


Berita Terkait