Mengenang Bang Iwan Uyun | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Mengenang Bang Iwan Uyun

Ceknricek.com -- Buat saya – Yasirwan Uyun atau Iwan Uyun adalah sahabat yang selalu ada di saat suka dan duka. Saya kenal beliau saat kami berdua masih reporter. Saya baru masuk di TVRI , berkenalan dengan Bang Iwan karena beliau satu group redaksi dengan mantan suami saya Eddy Maryadi.

Saya kenal beliau saat ia masih tinggal di rumah bedeng di daerah Sinabung. Betul-betul bedeng. Adik beliau Etty Uyun yang berprofesi sama sebagai reporter ikut tinggal di sana.

Suatu saat kami pergi ke Pulau Bidadari bersama wartawan Istana. Kibod putra tertuanya saat itu masih bayi ikut dibawa. Dan kita semua dibuat heboh karena bang Iwan dan Mbak Upik lupa membawa susu kaleng. Tapi semua teratasi.

Karena satu group redaksi dengan Eddy, maka praktis saya tumbuh dan besar di TVRI dan selalu dekat dengan Bang Iwan Uyun. Kami juga sama sama pernah ditugaskan meliput ke luar negeri bersama meliput APEC Vancouver 1997.

Ada suatu kejadian ketika Presiden Clinton datang ke Indonesia untuk acara APEC Bogor 1994, saya ditugaskan meliput Hillary Clinton. Dengan kenalan yang  kerja di kedutaan Amerika, saya mendapat kesempatan mewancarai Hillary saat akan meninjau Kampung Improvement Project. Kami datang, melewati sejumlah pemeriksaan, diendus anjing K9, diangkut dalam mobil. Di dalam mobil saya masih bertanya kita mau kemana ? Tapi tidak ada yang tahu termasuk dua wartawan asing di dalam van.

Lalu kami diminta turun, dikunci di halaman rumah orang di daerah Cipinang.  

Saat saya berdiri di atas pagar orang,  bersender tiang listrik saya bilang “ Kenapa kami wartawan Indonesia dikunci dari luar dan wartawan CNN  boleh meliput  di jalanan?  Ini namanya pelanggaran hak asasi kami sebagai jurnalis, dan ini tidak adil “

Mengenang Bang Iwan Uyun
Sumber: Istimewa

Saat berdebat  rupanya Hillary lewat  dan saya bertanya “Hillary Clinton bagaimana pendapat Anda tentang  Kampung Improvement Project ?” Dia balas, “ Saya belum lihat  “.  

Setelah itu saya ingin mengejar Hillary Clinton, semua wartawan diperbolehkan kecuali saya dan tim liputan TVRI.  Saya marah,  saya minta juru kamera ambil gambar dilarang meliput dan saya meninggalkan lokasi shooting. Mungkin ini  dampak berteriak-teriak tentang pelanggaran HAM. 

Saat Kembali saya laporkan kejadian ini kepada Bang Iwan yang saat itu adalah kepala seksi berita. Rupanya orang di kedutaan menelepon ke kantor dan mengatakan bahwa saya ditunggu untuk wawancara Hillary. Saya bilang : tidak perlu saya tidak mau. Orang kedua menelepon dari Secret Service, Meghan Maloney bilang Hillary berkenan diwawancara. Juga saya tolak. Lalu orang ketiga, sekretaris pribadi Hillary menelepon dan bilang mengapa menghilang, Hillary siap diwawancara. Hampir saya tolak, Bang Iwan Uyun dengar dan marahin saya, pergi nggak ke Hilton sekarang dan saya mendapat wawancara eksklusif Hillary Clinton. Kalau bukan bang Iwan saya sudah malas meliput. 

Sosok Bang Iwan yang akan selalu saya ingat adalah kedermawanannya. Dia tidak pelit, selalu menolong orang, dan selalu ingat sahabatnya. Oleh sebab itu Bang Iwan rejekinya seluas  samudera dan tidak pernah putus. Saya masih ingat ngobrol dengan Bang Iwan dia tidak malu mengatakan bahwa dulu sebelum masuk TVRI ia bekerja di sebuah gedung perkantoran sebagai seorang office boy atau penjaga kantor. Bayangkan di kemudian hari ia menjabat sebagai Direktur Utama TVRI, anggota KPI dan segudang prestasi lainnya. 

Anak saya Andari usia 1, 5 tahun dioperasi jantung karena jantung bawaan ASD ( Atrial Septal Defect ). Bang Iwan menengok sambil membawa Kibod yang memiliki penyakit VSD ( Ventrical Septal Defect ) dan bilang  “ Kibod mau tidak dioperasi seperti Andari ?. “ Hanya persiapan 4 hari, akhirnya Dokter Rudi dari Belanda dan Tim RSPAD ikut mengoperasi Kibod. Jadi teman-teman TVRI datang ke RSPAD menjenguk Andari dan Kibod. 

Mengenang Bang Iwan Uyun
Sumber: Istimewa

Saya melihatnya sebagai sebuah rejeki yang  luar biasa untuk Bang Iwan, semua urusannya dimudahkan Allah SWT. Kalau dipikir sebuah tim yang datang khusus dari Belanda untuk melakukan operasi jantung dan menambahkan pasien diluar yang sudah terdaftar adalah rejeki untuk Kibod dan Bang Iwan.

Reuni penyiar tahun lalu membuat 50 mantan penyiar termasuk almarhumah Inke Maris berbinar-binar karena semua  yang hadir mendapatkan masing-masing Rp 1.000.000. Bang Iwan membantu mendapatkan angpau dari  Prayogo Pangestu, atasannya di Barito Pacific Group.

Saat dia bilang mau kasih uang dan sudah bicara dengan Pak Prayogo saya pikir bercanda. Lalu dia ajak saya menunggu di parkiran, dan  tidak berapa lama saya lihat seseorang datang dan menyerahkan 50 amplop merah  kepada Pak Iwan. Semua bersorak bahagia. 

Itulah Bang Iwan selalu senang melihat orang senang. Saya rasa ratusan orang telah ia tolong. Kata orang, sifat seperti Bang Iwan adalah hadiah dari Tuhan dan orang seperti beliau adalah orang terpilih. Jadi mari kita semua belajar dari Bang Iwan : selalu bersedekah dan insyaallah, rejeki kita akan dibuka lebar oleh Allah SWT.

Selamat jalan sahabatku Iwan Uyun – beristirahatlah dengan damai . You will be missed…

Baca juga: In Memoriam Yazirwan Uyun Oleh Ilham Bintang


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait