Mengutak-atik (Lagi) Soal Azan | Cek&Ricek wardah-colorink-your-day
Foto: Istimewa

Mengutak-atik (Lagi) Soal Azan

Ceknricek.com--Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja suara azan dipersoalkan. Sebuah artikel pendek (tanpa nama penulis) dari situs berita Perancis AFP (14/10/2021), "Piety or noise nuisance? Indonesia tackles call to prayer volume backlash" dimuat ulang oleh detik.com (15 Oktober 2021) dan beberapa situs berita lain, dengan judul "Media Internasional Soroti Suara Azan Jakarta: Ketakwaan atau Kebisingan?".

Padahal, suara azan dari mesjid dan surau telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari di seantero tanah air selama ratusan tahun. Suatu hal yang alami, karena inilah negeri umat Islam terbesar di dunia. Bedanya, jaman dulu belum ada pengeras suara dan sekarang rata-rata telah menggunakan mikrofon. Suara azan yang memanggil umat untuk solat lima kali sehari itu terdengar dimana-mana dan sampai kemana-mana. Itu sudah menjadi budaya kehidupan di Indonesia. Tidak ada sama sekali terbersit maksud membuat bising, konon pula polusi suara. Namun, di mata media dan orang Barat, kalau sudah menyangkut Islam, ada saja yang bermasalah. Barangkali memang sudah begitu pembawaan "dari sononya". 

Sebagaimana tipikal media Barat dalam memberitakan Islam, konon kata artikel ini, komplain secara online atas suara azan sedang meningkat. Tapi karena takut pembalasan jadi tidak ada statistik resmi yang bisa diandalkan. Jadi tidak ada keterangan, kalau disebut meningkat, berapa banyak jumlah orang yang komplain dan dimana mereka berada? Sejumlah statemen dalam artikel ini layak dipertanyakan. Hanya dengan contoh seorang Rina yang baru 6 bulan tinggal di suatu tempat di pinggir Jakarta (yang luasnya 450 km persegi), lantas hendak merepresentasikan Indonesia.

Betapa kuatnya volume suara azan dari mesjid di pinggiran ibukota, menurut artikel ini, mengakibatkan seorang muslimah bernama Rina tadi (bukan nama sebenarnya), yang bertempat tinggal dekat sebuah mesjid jadi tak bisa tidur. Bahkan disebut menderita insomnia dan anxiety disorder. Tapi dia tak protes, karena takut akan dipenjarakan. Ketakutan itu, dikaitkan oleh artikel ini dengan kasus Meiliani tahun 2018 yang mendatangi mesjid di depan rumahnya di Tanjung Balai, Sumut minta suara mik mesjid itu dikecilkan karena merasa terganggu. Masyarakat setempat tidak terima dan merasa terluka. Perbuatan Meiliani itu telah menyulut reaksi keras dari kaum Muslimin disana, menyebabkan terjadinya kerusuhan. Akhirnya, dia dihukum 18 bulan penjara.

Selama ini, mengutik-ngutik soal suara azan merupakan sesuatu yang khas terjadi di negeri dimana kaum Muslimnya minoritas. Seperti yang antara lain terjadi kota Harmtramck, Michigan, AS, pada April 2004. (cbsnews. com, 20/4/04). Disana, kaum Muslimnya kurang lebih sepertiga dari 23.000 penduduk kota itu. Nah untuk boleh menyuarakan azan pakai loudspeaker, pengurus mesjid harus minta persetujuan dewan kota. Waktu dibahas di rapat dewan, banyak yang menolak. Dapat dimaklumi, karena orang sana banyak yang belum pernah mendengar azan sebelumnya. Salah satu alasannya, sama dengan yang disebut dalam tulisan AFP, yaitu soal kebisingan. Bahkan istilah yang dipakai pun persis sama, yaitu: "noise pollution" atau polusi kebisingan. Ada juga alasan lain dari National Alliance, grup supremasi kulit putih (white supremacist) yang berbasis di Plymouth, yang menyebarkan surat yang rasis ke penduduk kota, mendesak “orang Amerika kulit putih untuk paham bahwa ini merupakan serangan terhadap peradaban kita". Syukurnya, rapat dewan soal suara azan itu akhirnya membolehkan mesjid Al Ishlah mengumandangkan azan dalam rentang waktu pukul 06.00 pagi hingga 10.00 malam.

Di Swiss, pada 30 November 2009 bahkan diadakan referendum tentang pelarangan menara mesjid. Hasilnya mayoritas warga negara tersebut menyetujui pelarangan itu. Kita tahu, bahwa menara mesjid erat kaitannya dengan azan.

Media Barat dan Muslim

Kesan yang ditimbulkan oleh tulisan semacam artikel AFP tersebut seakan-akan telah begitu parahnya kebisingan yang diakibatkan oleh suara azan di pinggiran Jakarta. Disebutkan, bahwa mesjid ukuran menengah saja menggunakan sedikitnya selusin loudspeaker yang bikin azan jadi menggelegar lima kali sehari. Orang tak berani komplain karena takut akan pembalasan. Padahal nyatanya sama sekali tidak demikian.

Tanpa data dan fakta, kecuali cerita tentang seorang Rina (yang juga disamarkan karena ketakutan), artikel ini lantas menyebut adanya kekuatiran bahwa negeri yang dikenal toleran ini sekarang tengah terancam oleh pengikut garis keras. Umumnya begitulah cara pandang media Barat.  Dalam sebuah artikel tentang identitas Muslim di Selandia Baru, Rahmaini, dari School of Communication Studies, AUT University, Auckland menyebut bahwa antara kaum Muslim dengan media Barat memang terdapat "troubling relationship" atau hubungan yang terganggu. Misrepresentasi atau penggambaran yang tidak benar tentang dunia Muslim cenderung ada hubungannya dengan apa yang diberitakan di media luar yang lantas didaur ulang untuk konsumsi lokal.  Jadi, tak perlu heran, memang begitulah adanya.


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait