Foto : Istimewa

Tiket Murah Terbang di Luar Negeri

Ceknricek.com -- Di tengah mahalnya harga tiket pesawat di Indonesia, di belahan dunia lain konsumen masih bisa menikmati Low Cost Carrier (LCC). Sejumlah perusahaan maskapai penerbangan membentuk unit baru penerbangan murah meriah.

Sebut saja Japan Airlines atau JAL. Maskapai Negeri Sakura ini akhirnya membentuk unit baru LCC. Maskapai itu berharap bisa meraup untung menjelang penyelenggaraan Olimpiade Tokyo pada 2020. JAL akan mengoperasikan dua pesawat Boeing 787-8 Dreamliner pada unit barunya itu.

Sumber: JAL-airliner

Normalnya, kursi penumpang pesawat jenis ini antara 161 dan 186 kursi. Lantaran ditujukan untuk proyek ramah kantong, kursi penumpang ditambah menjadi 290 sampai 300 buah.

Nantinya, unit murah meriah ini akan melayani rute internasional jarak menengah antara Tokyo dan kota-kota besar lainnya di Asia, Amerika Serikat (AS), dan Eropa. Unit ini resmi berdiri 2 Agustus tahun lalu dengan menyandang nama TBL Co. Ltd. Kantor pusat perusahaan berada di Bandara Tokyo-Narita. Selanjutnya, unit ini nantinya menjadi anak perusahaan JAL. Nah, lantaran itu, ke depannya JAL akan menggandeng investor lain untuk memperluas model bisnisnya tersebut.

Sumber: Jal.co.jp

JAL berencana menerbangi 500 rute dengan lebih banyak menyasar penumpang non-Jepang. Targetnya, 50% dari seluruh penumpang. Sayangnya, maskapai ini belum mengungkapkan secara rinci rute mana yang akan dilayani lebih dulu. Namun, target pasar yang hendak dibidik jelas; wisatawan muda berkantong tipis.

Sejauh ini, JAL membatasi operasi penerbangan berbiaya murah hanya di Jetstar Japan. Ini adalah perusahaan penerbangan patungan antara JAL dan maskapai penerbangan Australia, Qantas Group.

Vice President Marketing of Global JAL Steve Smith mengatakan, pangsa pasar LCC di Asia secara praktis sama untuk Amerika Utara dan Eropa. “Satu di setiap dua kursi,” katanya, menunjuk pada pembagian 50% antara layanan penuh dan LCC.

Sumber: JAL-airliner

Tak hanya JAL yang ekspansif di sektor penerbangan murah, Vietjet Aviation, maskapai Vietnam, juga membidik rute ke Jepang. Belum lama, Vietjet memulai layanan penerbangan Hanoi-Kansai Airport dekat Osaka, Jepang.

Sumber: Jal.co.jp

Langkah ini akan diikuti penerbangan antara Ho Chi Minh City-bandara daerah Osaka dan Hanoi-Bandara Narita dekat Tokyo pada Desember nanti. Selanjutnya, maskapai ini membidik rute ke Bandara Haneda (Tokyo), Bandara Chubu dekat Nagoya, dan bandara yang melayani Fukuoka.

CEO Vietjet Nguyen Thi Phuong Thao dalam sebuah wawancara dengan Nikkei mengatakan, pihaknya berusaha menangkap permintaan yang melonjak untuk perjalanan bisnis dan liburan ke Jepang. Maskapai ini mengenakan tarif rendah dengan tiket pulang-pergi dari Hanoi ke Bandara Kansai seharga kira-kira US$300 atau sekitar sepertiga harga tiket Vietnam Airlines.

Sumber: Asia Nikkei

Vietjet saat ini menawarkan layanan ke berbagai tujuan di sembilan negara, termasuk Cina, Thailand, dan Malaysia. Maskapai ini akan segera memutuskan apakah akan meluncurkan lebih banyak rute internasional ke India, Rusia, dan Australia. Vietjet juga mempertimbangkan kemitraan dengan operator Eropa.

Di negerinya, Vietjet hanya harus bersaing dengan dua pesaing domestik: perusahaan negara Vietnam Airlines dan maskapai LCC, Jetstar Pacific Airlines. Tahun lalu, Vietjet mengambil alih dominasi Vietnam Airlines untuk pangsa penerbangan domestik. Kali ini, perusahaan kian agresif ke luar negeri.

Kekuatan Vietjet terletak pada fokusnya dalam memangkas biaya. Tidak hanya maskapai penerbangan tanpa embel-embel, ia mendapatkan pesawat top-of-the-line dengan jarak tempuh bahan bakar yang superior. Biaya rata-rata Vietjet per tempat duduk--tidak termasuk bahan bakar--hanya 2,25 sen per kilometer. Angka ini dilaporkan sebagai yang terendah di antara maskapai global. Margin laba bersih tercatat sekitar 11% atau melebihi maskapai elite Singapore Airlines.

Langkah ekspansif juga ditempuh Scoot. Maskapai asal Singapura ini meluncurkan penjualan tiket murah ke Berlin, Jerman, sebagai destinasi jarak jauhnya yang ketiga setelah Athena, Yunani, dan Honolulu, AS. Scoot menjadi satu-satunya maskapai penerbangan bertarif rendah di Asia Tenggara yang menawarkan penerbangan langsung dari Singapura ke Berlin. Kota ini penting karena merupakan pintu gerbang menuju Jerman dan Eropa Barat. Scoot menjual tiket seharga Rp3,5 juta untuk perjalanan Singapura-Berlin. Harga ini hanya separuh dari harga tiket Qatar Airways.

Scoot melakukan penerbangan pertama pada 20 Juni 2018 lalu. Penerbangan dilakukan selama empat kali dalam sepekan dengan pesawat berbadan lebar (wide body) Boeing 787 Dreamliner.

Penerbangan Ultra Rendah

Maskapai bertarif rendah memang menunjukkan tren positif pada tiga tahun belakangan. Perkembangannya melesat cepat, terutama di pasar Asia. Selain Scoot, sebut saja AirAsia, Jetstar, atau yang asli dari Tanah Air seperti Citilink.

AirAsia kini telah memiliki lebih dari 130 destinasi di 50 negara. Berdiri pada 2001 dengan hanya dua armada pesawat, maskapai itu mengklaim telah menerbangkan lebih dari 500 juta penumpang atau sepadan dengan tujuh kali lipat populasi Thailand.

LCC sangat populer di pasar Asia dan Eropa dibandingkan regional lain karena tingginya persaingan maskapai. “Ketika ada persaingan (maskapai) yang tinggi, tarif akan menjadi sangat rendah. Pelanggan membayar tarif dasar karena biaya untuk makanan atau komisi tiket tidak digabungkan,” ujar Bryan Saltzburg, President Flight and Cruise TripAdvisor, suatu ketika.

Ada sekitar 62 maskapai, baik maskapai carter maupun layanan penuh yang beroperasi di Asia. Mau tak mau mereka harus bersaing agar mendapatkan penumpang dan mencapai target okupansi. Salah satu strategi yang dijalankan adalah dengan menawarkan tarif rendah.

LCC di pasar Eropa juga menjanjikan. Ada EasyJet yang terbang di Austria, Swiss, dan Inggris. Ada pula Wow Air, Ryanair, Ernest Airlines, dan lainnya. Banyaknya maskapai yang beroperasi dan tingginya persaingan tentu juga menguntungkan pelancong atau wisatawan. Wisatawan akan memiliki lebih banyak opsi untuk mencapai destinasi dengan memilih penerbangan bertarif rendah atau layanan penuh.

Di AS, sebuah maskapai berbiaya rendah Norwegia terbang dari New York ke Madrid dengan harga US$154 (Rp2,2 juta) sekali jalan, termasuk pajak, lintas benua. Tarif itu sangat rendah sebab jika menggunakan American Airlines dan Lufthansa berkisar US$400 (Rp5,7 juta).

Tiket Murah. Sumber: Gettyimages

Asisten profesor di Universitas Aeronautika Embry-Riddle, Gerald Cook menjelaskan, biaya operasi dan tiket pesawat LCC hampir bisa disebut misterius. "Tiket murah sekali jalan ke Eropa itu tidak menguntungkan bagi maskapai mana pun tetapi menambah total pendapatan penerbangan," jelasnya.

Biaya penerbangan tidak didasarkan langsung pada biaya per kursi. Total biaya untuk mengoperasikan penerbangan termasuk tagihan bahan bakar, gaji pilot dan awak kabin, biaya makanan dan pembersihan hingga pembayaran untuk pesawat bisa lebih dari US$250 juta (Rp3,5 triliun).

Maskapai Ryanair mengatakan, tarif rata-rata tidak benar-benar menutupi biaya terbang penumpang. Meski demikian, itu sangat menguntungkan.

Maskapai mencari untung melalui biaya pemilihan bagasi dan kursi, penjualan di pesawat, dan semua produk dengan harga yang pasti lebih tinggi daripada harga kursi itu sendiri. Maskapai ini terbang sesering mungkin per hari sehingga dapat mengenakan biaya ekstra sesering mungkin, dan operator jarak jauh tidak akan bisa melakukan itu.

"Variabilitas sebenarnya bukan biaya, ini pendapatan. Tujuan maskapai adalah memaksimalkan pendapatan di penerbangan tertentu pada hari tertentu, berdasarkan pada permintaan yang diharapkan dan aktual," ucap Cook.

Cook memperkirakan, sekitar 10% dari semua kursi pesawat LCC yang tersedia sebagai tarif ekonomi dasar. Itu berarti pada jet berbadan lebar rute Eropa, sekitar 30 kursinya tersedia dengan harga di bawah tarif. Setelah tiket tersebut dijual, tarif umumnya akan meningkat saat mendekati tanggal perjalanan.

Jika maskapai tidak menawarkan tarif rendah untuk menarik penumpang, kursi tidak akan terjual dan tidak menghasilkan pendapatan. Mereka jauh lebih baik menjual beberapa kursi dengan tarif rendah.

Sumber: Istimewa

Tapi, tarif itu tidak akan terlalu rendah dan tidak terlalu banyak pengurangan, kata Henry Harteveldt, pendiri Atmosphere Research Group dan pakar industri penerbangan. Karena, tidak ada maskapai yang akan mendiskon lebih dari yang seharusnya.

Harteveldt mengatakan, tujuan maskapai LCC yang mapan menjual cukup tarif dasar ekonomi untuk bisa bersaing dengan sesamanya dan juga untuk mendorong penumpang ke kelas tarif yang lebih tinggi, yakni ekonomi, ekonomi premium hingga bisnis.

Maskapai menggunakan perangkat lunak yang kompleks untuk melakukan penyesuaian harga yang dinamis. Itu didasarkan pada data historis, tarif pesaing, penjualan yang diharapkan untuk kelas tarif penerbangan tertentu.

Satu penyedia perangkat lunak menganalisis lebih dari satu miliar kombinasi tarif antara London dan New York dengan mempertimbangkan berbagai kelas tarif, maskapai penerbangan dan kursi yang sesuai pada penerbangan sekali jalan di rute tersebut.

Apa saat ini ada di zaman keemasan tarif rendah atau LCC? Kata Harteveldt, ia menyetujuinya karena harga bahan bakar sudah masuk akal. Ada permintaan yang baik untuk perjalanan udara di AS dan Eropa dan bahkan permintaan yang relatif baik pula di Amerika Latin dan Asia. "Tarif turun di mana pasar memiliki pesaing berbasis harga dan banyak kapasitas untuk memenuhi permintaan," jelas Harteveldt.

Dia mencatat, ketika Southwest memasuki pasar, harga langsung turun. Penerbangan ke Hawaii bisa turun sampai US$49 dari Pantai Barat Amerika. "Hawaiian Airlines dan United, pesaing utamanya akan merespons secara terkendali," katanya.

Tarif maskapai yang menyandang LCC memang bisa sangat murah. Tengok saja tarif sepuluh maskapai penerbangan termurah di dunia. Tigerair Australia adalah jawara maskapai super murah. Mereka hanya mematok US$0,06 per kilometer (km). Lihat juga AirAsia X dengan tarif hanya US$0,07 per km atau AirAsia dengan biaya sekitar US$0,08 per km, Jetstar US$0,09, Etihad US$0,10, Wow Air US$0,10, dan Oman Air US$0,10.

Terbelit Masalah

Lantaran itu, maskapai bertarif murah rentan terbelit masalah. Berita terbaru datang dari Islandia. Belum lama ini, Icelandair Group mengumumkan mengakuisisi Wow Air. Icelandair dan Wow Air sama-sama maskapai penerbangan Islandia. Akuisisi ini mengikuti tren ambruknya sejumlah maskapai penerbangan bertarif rendah di Eropa sejak 2017, termasuk Monarch (Inggris), Air Berlin, SkyWork (Swiss), VLM (Belgia), Cobalt Air (Siprus), dan Primera Air (Denmark).

Nantinya, menurut Forbes, Wow Air akan tetap beroperasi di bawah merek terpisah dari Icelandair. Selama ini, Icelandair dikenal sebagai maskapai penerbangan layanan penuh yang terbang ke-48 destinasi. Maskapai penerbangan yang beroperasi sejak 1937 ini berpusat di Bandara Internasional Keflavík, Islandia.

Sumber: Ireland.view

Di sisi lain, Wow Air adalah maskapai bertarif rendah. Bahkan, setelah pengumuman akuisisi tersebut, Wow Air masih memasang iklan tarif satu arah yang sangat rendah, seperti Chicago ke Reykjavik seharga US$99 atau New York ke Berlin dengan harga US$159.

Wow Air juga berbasis di Keflavik. Perusahaan ini didirikan pada 2012 dan saat ini terbang ke 36 tujuan. Maskapai ini mengoperasikan 14 Airbus A321, tiga pesawat Airbus A320, dan tiga pesawat Airbus A330.

Maskapai berjuluk LCC memang mengalami pasang surut. Walau begitu, menurut Eurocontrol, maskapai penerbangan bertarif rendah telah menjadi segmen yang tumbuh paling cepat di Eropa. Jumlah penerbangan yang tumbuh sebesar 61% dalam sepuluh tahun terakhir (2007-2016).

Pertumbuhan dalam maskapai penerbangan berbiaya rendah juga ditandai oleh penurunan 10% di segmen penerbangan tradisional yang dijadwalkan selama periode yang sama di Eropa. Menurut Airbus Group, pangsa pasar global maskapai penerbangan berbiaya rendah diperkirakan akan tumbuh hingga 21% pada 2034.

Di AS, LCC memiliki pangsa hampir 30% di pasar domestik. Secara keseluruhan, Southwest menduduki peringkat pertama di antara maskapai penerbangan terkemuka di AS dengan pangsa pasar 19,1% pada 2016, diikuti oleh operator warisan Delta dan American Airlines. Dengan penerbangan ke lebih dari 97 tujuan, Southwest meraup laba bersih lebih dari US$2,2 miliar pada 2016.

JetBlue Airways menduduki peringkat kelima dengan pangsa pasar domestik 5,5% dan aliran pendapatan operasi sebesar US$6,6 miliar pada 2016. Nah, yang menarik adalah munculnya maskapai penerbangan ultra–low cost carrier atau berbiaya ultra rendah, seperti Spirit Airlines, Frontier Airlines, atau Allegiant Air di pasar domestik AS.

Operator genre ini berkembang pesat. Pada hari ini, mereka mewakili hampir 7% dari semua kursi maskapai penerbangan AS. Menengok armada yang mereka miliki, pangsa mereka akan menjadi 12% dalam 18 bulan ke depan.



Berita Terkait