Widyawati 70 Tahun, Cerita Sang Legenda | Cek&Ricek
Sumber: Istimewa

Widyawati 70 Tahun, Cerita Sang Legenda

Ceknricek.com—Minggu,12 Juli 2020, aktris senior Widyawati menginjak usia 70 tahun. Sudah tidak muda lagi memang. Dalam kategori yang dirilis Menteri Sosial, usia 70 tahun masuk kategori lanjut usia. Namun, seperti kata orang bijak, usia hanyalah angka. Setidaknya, itulah gambaran nyata tentang bagaimana Widyawati memaknai usia senja.

Ia masih produktif. Bergelut intens didunia yang membesarkan namanya. Tak pernah lepas dari seni akting. Terus mengeksplorasi kemampuannya. Tak kenal lelah. Baling-baling energi kreatifnya berputar kencang, ditengah serbuan artis artis muda di industri film kita. Juga,kualitas aktingnya masih tetap terjaga.

Foto: Istimewa

Bayangkan. Jelang ulang tahunnya ke-70, Widyawati masih “sempat” menyabet penghargaan sebagai Artis Pembantu Terbaik di film “Ambu” pada ajang Festival Film Asia Pasifik (APFF) yang diselenggerakan di Macau, 5-9 Januari 2020. Sudah tentu, penghargaan ini bukan yang pertama kali diterima oleh aktris kelahiran 1950 ini.

Menariknya, tak cuma berakting. Widyawati juga ketiban sampur untuk menyanyikan lagi  "Semesta Pertamaku" yang merupakan musik film "Ambu". Ini seolah melanjutperan di film-film yang dibikin almarhum suaminya, Sophan Sophiaan, dimana Widyawati juga menyanyikan lagu untuk kepentingan filmnya. Di film “Ambu”, Widyawati cukup dua kali retake, dan lagu itu langsung ‘bungkus’.

Di usia 70 tahun, tak pelak Widyawati telah mendapatkan segalanya. Memerankan banyak tokoh, mendapat jodoh, hingga meraih banyak penghargaan. Aktris yang menyabet Piala Citra untuk kategori Peran Pembantu Terbaik FFI (Festival Film Indonesia) 1977 dan Piala Citra kategori Aktris Terbaik FFI 1987 ini bahkan masih bisa bertingkah seperti anak muda dalam film terbarunya, Mahasiswa Baru. Luar biasa.

Berawal dari Grup Trio Visca

Jika Widyawati punya kemampuan bernyanyi, sesuatu yang orang tidak banyak tahu, agaknya tak lepas dari awal kemunculannya di dunia hiburan. Sebelum terkenal sebagai bintang film, putri pasangan Aryati dan Adisura ini terlebih dahulu menekuni dunia tarik suara. Bersama kedua saudaranya Winny dan Ria mereka membentuk Trio Visca.

Foto: Istimewa

Kehadiran trio yang sempat menghasilkan album seperti Black is Black, Cempaka, dan Cinta di Ujung Tahun ini bahkan disambut antusias oleh pencinta musik di era 1960-an. Hal ini lantaran kemunculan mereka memberikan warna baru di belantika musik Tanah Air kala itu. Sayang, setelah Widyawati menekuni dunia film, perhatian dan energinya lebih banyak tercurah pada seni peran. Apalagi setelah menikah dengan Sophan Sophiaan.

Widyawati dan Sophan dipertemukan di film Pengantin Remaja. Ini film percintaan yang melodramatik dan mampu mengaduk-ngaduk emosi penonton.Tak butuh waktu lama, satu tahun semenjak film Pengantin Remaja diliris, Sophan dan Widyawati menikah pada tanggal 9 Juli 1972 di Masjid Al-Azhar. Mereka berdua kemudian dikaruniai 2 orang anak.

Foto: Istimewa

Bersama Sophan, Widyawati banyak main bareng,atau setidaknya ikut mendukung film yang dibesut Sophan. Dari Romi dan Juli (1974), Perempuan kedua (1990) hingga film yang terakhir, Love (2008). Juga film yang disutradarai Sophan,seperti Jinak-Jinak Merpati (1975), Bunga Kecil (1978), Arini, Masih ada Kereta yang Akan Lewat (1987), dan Sesal (1994).

Foto: Istimewa

Kekompakan mereka mengesankan publik. Banyak yang bilang Widyawati-Sophan adalah pasangan ideal. Faktanya memang bangunan rumah tangga mereka sepi dari gosip. Soal ini, Widyawati pernah membongkar ‘resep’ keharmonisan hubungannya dengan sang suami.

Pertama adalah saling mengucapkan kata ‘I Love You’ setiap saat meskipun sudah tua. Kedua adalah saling menjaga ego agar tidak sering terjadi pertengkaran dalam rumah tangga. Dan terakhir adalah langsung berkomunikasi saat ada masalah dan menyelesaikannya saat itu juga.

Sebagai istri yang dalam filosofi Jawa sering disebut konco wingking (teman

dibelakang),Widyawati selalu mendukung apapun karir suaminya. Dari jadi bintang film, sutradara film hingga anggota DPR. Widyawati mendukung Sophan ketika berkiprah di Senayan  tahun 1992-1997. Ia juga mendukung suaminya ketika Sophan memutuskan mengundurkan diri dari DPR pada tahun 2002.

Sempat Terpuruk Sepeninggal Sophan

Sophan dan Widyawati ibarat sepasang sayap burung. Maka saat Sophan tiada, burung itu menjadi pincang dan lemah. Begitu yang dirasakan Widyawati saat  Sophan pergi menghadap sang Pencipta tahun 2008. Hatinya menjadi rapuh bahkan beberapa kali jatuh sakit hingga dirawat di rumah sakit.

Foto: Istimewa

Sophan wafat pada Mei 2008, ketika sedang mengikuti konvoi dengan sepeda motor gede di Ngawi, Jawa Timur, dalam rangka peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional.  Meski sempat terpuruk,Widyawati tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Dia segera bangkit dengan alasan tak mau merepotkan anak-anak dan keluarganya.

Hanya saja, sejak menjanda, Widyawati merasa tidak punya alasan lagi untuk memasak dan berkreasi di dapur. Selain karena sudah tidak ada kepala keluarga, jadwal syuting membuatnya nyaris tidak sempat bergelut di dapur.  Ia mendedikasikan sepenuhnya waktu dan energi untuk seni peran. Namun yang jelas, sejak kepergian sang suami hingga kini, rasa cinta  Widyawati pada mendiang suaminya tak pernah padam.

Dia tetap bermain film seperti biasanya karena ingat dengan perkataan Sophan untuk tetap berkarya di dunia akting. Bahkan di setiap acara award, Widyawati tak pernah lupa menyebutkan rasa terima kasih dan cintanya kepada Sophan. Uniknya, puluhan tahun bergelut di dunia akting, Widyawati selalu memerankan tokoh protagonis. Hanya di film Bridezilla ia memerankan tokon antagonis.

Foto: Istimewa

Kini selain tetap main film, melalui akun instagramnya Widyawati selalu mengungkap syukur atas  perjalanan yang telah ia tempuh. Ia bahkan dengan bangga memamerkan rambutnya yang telah memutih oleh uban.  Baru-baru ini ia kerap membagikan potret lawasnya di instagam pribadinya.

Usia 70 tahun memang sudah tak muda lagi. Tapi, sekali lagi, usia hanyalah deretan angka-angka. Seperti kata Albert Schweitzer,seorang dokter pecinta kemanusiaan,”Orang tidak menjadi tua karena bertambahnya usia, tetapi karena ia menyerah dan mengucapkan selamat tinggal kepada cita-citanya”.  

Selamat ultah mbak Widya. Selamat ultah sang legenda.


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait