Berharap Si Manis dari Hindustan | Cek&Ricek
Sumber: Detik

Berharap Si Manis dari Hindustan

Ceknricek.com -- Pemerintah memutuskan akan mengimpor gula mentah atau raw sugar dari berbagai negara, seperti Thailand dan Australia untuk kebutuhan gula konsumsi atau gula kristal putih (GKP). Selain itu, India juga akan menjadi pemasok gula impor mentah yang akan diolah jadi GKP di dalam negeri.

Menurut Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, stok gula dalam negeri masih mencukupi hingga April. Untuk memenuhi stok 2020, pemerintah akan mengimpor gula mentah sebelum musim produksi atau giling yang dimulai sekitar Mei mendatang.

Impor gula dari India sudah diputuskan sebanyak 495 ribu ton. Volume impor gula tersebut merupakan kesepakatan untuk alokasi impor tahun 2019 yang belum terealisasi.

Sumber: tempo

Untuk mengakomodasi impor gula India, pemerintah mengubah standar ICUMSA (International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis) dari 1.200 menjadi 600. India umumnya memiliki ICUMSA 600 IU untuk gula mentah. Keputusan ini didukung oleh pencabutan keputusan Badan Standardisasi Nasional (BSN) Nomor 100 Tahun 2008 dan Nomor 159 Tahun 2011 yang mengatur standar gula kristal mentah pada 17 Februari lalu.

Baca juga: Berkah Lebaran: Si Manis yang Kian Menarik

Otoritas India pun telah menyampaikan rencana ekspor 250 ribu ton gula mentah ke Indonesia hingga Mei tahun ini. India akan kembali membidik Indonesia setelah Thailand sebagai negara pemasok utama gula mentah ke Indonesia mengalami penurunan produksi akibat kekeringan.

Harga Naik

Sejak awal tahun, harga gula pasir di beberapa pasar tradisional di Indonesia terus beranjak naik. Di pasar di Kabupaten Gunung Kidul dan Bantul, Yogyakarta, harga si manis berada di kisaran Rp15.000 per kilogram (kg). Sebelumnya, harga gula pasir hanya berkisar antara Rp11.000 hingga Rp12.000 per kg.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional mencatat  kristal putih ini juga sudah dibanderol Rp15.000 per kg di pasar Jakarta. Padahal pada awal Januari kemarin masih di kisaran Rp14.350 per kg.

Harga gula pasir tertinggi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia timur. Di Provinsi Maluku harga si manis bertengger Rp16.000 per kg dan di Papua dengan kisaran Rp16.600 per kg.

Sumber: Istimewa

Ironisnya, kenaikan harga gula pasir juga menimpa daerah-daerah yang merupakan produsen gula terbesar di Indonesia. Di Jawa Timur harga gula pasir berada di angka Rp14.250 per kg, atau naik sebesar Rp1.250 dibanding harga awal Januari. Harga gula di Lampung juga naik Rp500 per kg menjadi Rp13.400, Jawa Tengah naik dari Rp13.550 menjadi Rp14.950.

Baca juga: Ikappi Minta Pemerintah Sosialisasikan Korona Tidak Menyebar Lewat Bawang Putih

Kenaikan harga gula yang terjadi saat ini di semua provinsi melampaui harga acuan di tingkat konsumen yang ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan. Peraturan Menteri Perdagangan nomor 7 tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen ditetapkan Rp12.500 per kg.

Anehnya, sejumlah pihak mengaku tidak tahu penyebab kenaikan harga gula. Apakah karena faktor kelangkaan stok, distribusi, atau yang lainnya. "Belum terdeteksi," kata Abdullah Mansuri,  Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional, seperti dikutip Kontan, belum lama ini.

Kementerian Perdagangan saja hanya mengatakan akan mengecek jalur distribusi dan gudang bersama Satgas Pangan. “Kami lihat masih ada stok lama. Jadi kami akan lihat lagi apakah distribusi ini, di mana miss-nya. Iya mungkin di distribusinya atau makanya akan cek dengan Satgas Pangan,” kata Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto.

Nah untuk menekan kenaikan harga gula itu, pemerintah akan melakukan operasi pasar. Dengan begitu akan ada tambahan stok di pasaran.

Stabilisasi Harga

Hal lainnya adalah dibukanya keran impor. Kementerian Pertanian telah memasukan gula ke dalam bahan-bahan pangan yang harus diimpor. Tujuannya, untuk memastikan agar ketersediaan barangnya terjaga sampai denga Mei 2020.

Baca juga: BPS Beberkan Data Kontribusi China untuk Ekspor-Impor Indonesia

Selain impor 495 ribu ton dari negeri Hindustan, impor gula kemungkinan akan membesar lantaran Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) juga mengusulkan agar diberi penugasan untuk melakukan impor gula sebesar 200.000 ton dalam waktu dekat ini. Impor itu perlu dilakukan untuk menstabilkan harga gula menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2020. “Itu gula konsumsi, bukan raw sugar,” kata Tri Wahyudi, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog.

Sumber: Jawa pos

Alasan usulan impor itu karena Bulog mengaku mendapat banyak permintaan agar mempunyai stok gula yang cukup menjelang Ramadan dan Idul Fitri. “Bulog harus punya stok. Kami sampaikan itu ke Rakor, bahwa kami butuh untuk stabilisasi harga,” kata Tri.

Gula India menjadi pilihan. Prioritas itu terjadi karena India menerapkan kenaikan ketat atas impor hasil minyak sawit (olein), termasuk dari Indonesia. Dengan mengimpor gula dari India, maka minyak sawit Indonesia diharapkan  akan mudah masuk ke sana. "Memang salah satunya kita punya target ke India supaya sawit kita juga diterima. Jadi saling mengisi," jelas Kasdi.

Baca juga: Covid-19 Ganggu Neraca Dagang

Kasdi Subagyono. Sumber: Antaranews

Impor gula dari India memang tak bisa terelakan, sebab tahun lalu Presiden Jokowi dan Perdana Menteri India Narendra Modi sudah sepakat saling tukar perdagangan antara gula dan sawit. India menyetujui persyaratan yang diminta Indonesia terkait ekspor kelapa sawit agar tidak ada perbedaan nilai tarif impor dengan Malaysia. Namun India juga meminta Indonesia untuk bisa membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar  dari negaranya.

Bahkan, ketika Menteri Agus ke India pada 19-21 Februari kemarin, impor gula juga dibahas bersama Piyush Goya, Menteri Kereta Api, Perdagangan, dan Industri India. Impor gula merupakan bagian dari peningkatan nilai perdagangan antara Indonesia dengan India yang ditargetkan sebesar US$50 miliar per tahun.

Impor gula konsumsi memang harus dilakukan lantaran kebutuhan dan pasokan dalam negeri tak pernah cukup.  Berdasarkan data yang dimiliki Kementan, kebutuhan gula konsumsi nasional sekitar 2,8 juta ton per tahun. Sementara, produksi lokal baru bisa mencapai sekitar 2,2 juta ton. Artinya, terdapat kekurangan sekitar 600 ribu ton.

Kementan sendiri bertekad menekan impor gula konsumsi dengan terus meningkatkan produksi tebu  dan bertumbuhnya industri pabrik gula berbasis tebu. Sayangnya, sampai sejauh ini upaya tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Produksi gula Indonesia tak juga beranjak.

BACA JUGA: Cek POLITIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait