Di Australia Wajib Minta Izin Untuk Bunuh Burung | Cek&Ricek astra-satu-untuk-indonesia
Foto: Istimewa

Di Australia Wajib Minta Izin Untuk Bunuh Burung

Ceknricek.com--“In the Spring a young man’s fancy lightly turns to thoughts of love.”  Kalimat di samping adalah kutipan dari salah satu karya pujangga terkemuka Inggris, Alfred, Lord Tennyson, yang lahir dan meninggal dalam abad ke-19. Maknanya adalah bahwa di musim semi/bunga pikiran seorang anak muda melayang ke arah cinta.

Mungkin rumusan atau filosofi ini tidak berlaku bagi anak muda di Indonesia yang mengenal hanya musim kering dan musim hujan. Dan ternyata burung gagak di Australia juga tidak mengenal rumusan seperti itu. Beberapa hari silam ramai diberitakan berbagai media, dari surat kabar hingga televisi di Australia, bahwa sebuah balai-kota di Negara Bagian New South Wales, akhirnya mengeluarkan izin untuk “menjarangkan” (kata bunuh tidak dipakai dalam izin itu meski tujuannya sama, menghabisi kehidupan) dua ekor burung gagak, satu jantan dan satu betina yang bersarang dalam salah satu kawasan kotapraja itu.

Memang sudah lazim bahwa di musim semi seperti sekarang ini di Australia banyak sekali telur burung dari berbagai jenis yang menetas. Namun bagi burung gagak anaknya yang baru menetas itu dijaga, dirawat dan dilindungi secara agak berlebihan. Sering kita dengar atau baca tentang induk burung gagak yang menyerang orang yang bersepeda atau jalan kaki di kawasan di mana anaknya yang baru menetas berada.

Begitulah yang terjadi – induk jantan yang “mengawal” sarang tempat anak atau anak-anaknya baru menetas sangat curiga terhadap manusia yang berlalu lalang, seolah manusia-manusia itu merupakan ancaman terhadap keselamatan atau kesejahteraan anak-anaknya yang masih di dalam sarang. Dan sang “ayah” pun tidak segan-segan melakukan penyambaran. Tidak sedikit pejalan kaki yang dari telinganya atau dahinya atau bahkan kulit kepalanya bercucuran darah sebagai akibat “serangan menukik” yang dilancarkan burung gagak itu.

Mereka yang bersepeda, yang diwajibkan mengenakan helm, juga tidak luput dari ancaman serangan, begitu juga pengantar surat yang biasanya mengendarai motor kecil. Patukan dan cakaran kaki burung gagak Australia memang cukup ampuh untuk menyucurkan darah. Tidak mengherankan kalau kotapraja menerima banyak surat pengaduan dari para mangsa keganasan burung gagak itu. Salah seorang pengamal lari pagi mengatakan, mendapat tiga serangan, dua di antaranya mengakibatkan darah bercucuran dari bagian kepalanya.

Pihak berwenang memang serba salah: harus memikirkan nasib dan keselamatan warganya dan juga satwanya.Salah satu jalan yang ditempuh adalah keputusan Kotapraja menyediakan payung untuk dipinjam pejalan kaki yang khawatir akan diserang burung gagak. Segala daya upaya dan cara untuk mengurangi serangan burung gagak ternyata sia-sia.

Kata seorang anggota Kotapraja terkait, “Biasanya musim serangan itu hanya berlangsung 3 bulan, namun kini sudah diperpanjang sampai 6 bulan.” Kotapraja telah memasang maklumat-maklumat peringatan tentang bahaya serangan burung gagak di berbagai tempat, namun tampaknya tidak juga berhasil menghindari sepenuhnya serangan burung gagak.

Akhirnya Kotapraja harus mengajukan permohonan, awalnya untuk memindahkan sarang burung gagak yang agresif itu, dan kalau itu juga tidak berhasil, maka permohonan kepada Dinas Taman Nasional dan Satwa Liar, dimintakan izin untuk “menjarangkan”, istilah sopan untuk memusnahkan kedua burung yang tidak tahu diri itu.

Akhirnya izin dikeluarkan, sesudah melalui pertimbangan yang sungguh-sungguh. Kata Kotapraja, seakan hendak membela keputusannya mengeluarkan izin itu, “Ini barulah pertama kali dalam ingatan banyak orang, dan semoga terakhir kali, izin “penjarangan” dikeluarkan.”

Akan tetapi burung-burung gagak yang buas itu bukan tanpa pembela. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari Partai Keadilan untuk Hewan Negara Bagian New South Wales, meminta agar parlemen negara bagian mengutuk penjarangan itu. Ia mengatakan akan mengangkat persoalan ini dalam sidang parlemen daerah.

“Bagaimana dengan nasib anak-anak burung gagak itu kalau kedua induknya dimusnahkan?” tanyanya penuh kesengitan. Ditambahkannya bahwa perbuatan seperti itu sama sekali tidak dapat diterima. Banyak pihak yang mengatakan, seseorang yang sedang jalan kaki atau naik sepeda atau motor kecil, kalau tiba-tiba mendapat serangan bisa panik dan dapat menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

Nampaknya bagi sementara pihak ada masalah untuk mengutamakan antara keselamatan manusia dan kesejahteraan burung. Sementara itu, seorang peternak domba di Negara Bagian New Soutyh Wales merasa sangat kecewa karena permohonannya untuk memperoleh izin memusnahkan burung-burung gagak di sekitar peternakannya baru keluar sesudah 2 pekan.

“Penguasa setempat terkesan berpihak ke burung gagak yang sudah sering membunuh anak domba saya, dan izin untuk saya menembak burung gagak di peternakan saya hanya berlaku satu tahun,” kata peternak Daniel Briggs dengan kesal.

Ketika kota Sydney menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2000, burung gagak juga sempat menimbulkan masalah, karena rajin menyerang para peserta lomba sepeda gunung. Nyaris saja perlombaan dipindahkan ke kawasan lain. Bagaimana pun burung gagak juga adalah makhluk Tuhan. Iya ‘kan? Wallahu a’lam.


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait