Grafik Turun Bisnis Rintisan | Cek&Ricek
Sumber: Istimewa

Grafik Turun Bisnis Rintisan

Ceknricek.com -- Setidaknya ada dua perkembangan penting di bisnis rintisan atau startup. Pertama, kian jomplangnya investasi di bisnis rintisan di Indonesia. Investasi yang tinggi tidak diimbangi return of liquidity yang memadai. Kedua, terjadi penurunan cukup tajam nilai investasi startup di Negeri ini sepanjang 2019. Kondisi sebaliknya justru terjadi di Vietnam dan Thailand.

Dua perkembangan itu dilansir Centro Ventures, perusahaan modal ventura yang terfokus pada startup teknologi di Asia Tenggara.

Soal investasi, Centro mencatat, secara umum investasi startup di Asia Tenggara turun sepanjang 2019. Jika pada 2018 investasi bidang ini sebesar US$12 miliar, pada 2019 terpuruk menjadi hanya US$7,7 miliar. Namun, Cento mengatakan jumlah pendanaan meningkat dari 363 menjadi 616 kesepakatan.

Grafik Turun Bisnis Rintisan
Sumber: Startup

Khusus Indonesia, nilai investasi turun 41% pada 2019 menjadi US$2,3 miliar. Tahun 2018 nilai investasi yang berhasil diraih US$3,9 miliar. Hanya saja, jumlah kesepakatan antara startup Indonesia dengan investor meningkat dari 104 menjadi 131 kesepakatan. 

Co-Founder Cento Ventures, Mark Suckling, mengatakan penurunan tersebut terjadi karena kurangnya modal yang dikumpulkan oleh perusahaan-perusahaan berstatus unicorn.

Berbanding Terbalik 

Laporan Cento Ventures berjudul Southeast Asia Tech Investment in 2019, itu juga menyebut tingkat return on investment atau ROI dari perusahaan-perusahaan rintisan Indonesia berbanding terbalik dengan nilai investasi yang disalurkan di sepanjang 2018-2019. Total dana yang diinvestasikan ke perusahaan-perusahaan rintisan di Indonesia sebesar US$9,4 miliar, sedangkan return of liquidity yang diperoleh US$1,2 miliar.

Angka itu jelas membuat mata terbelalak: fantastis. Namun, menurut Suckling, belum setaranya nilai investasi dengan return of liquidity di Indonesia, itu hanya masalah waktu. Menurutnya, terdapat jeda antara investasi dan waktu yang diperlukan oleh perusahaan rintisan untuk berkembang.

Grafik Turun Bisnis Rintisan
Sumber: Istimewa

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo), Edward Ismawan Chamdani, menambahkan hal tersebut terjadi karena ekosistem perusahaan rintisan Tanah Air yang masih dalam tahap pertumbuhan. "Sehingga cash value yang diterima oleh para investor belum mature," ujarnya kepada Bisnis, Senin (10/2).

Baca Juga: Kominfo Target Tiga Unicorn Baru pada 2024

Likuiditas pengembalian investasi Malaysia lebih baik. Menurut Edward itu tidak lepas dari adanya investasi dengan nilai lebih dari US$100 juta, salah satunya diraup oleh iProperty Group yang dikatakan telah melantai di bursa efek Australia. 

Menurut dia, tren pendanaan dengan nilai investasi di atas US$100 juta diperkirakan baru akan marak terjadi di Indonesia pada tahun ini. Perusahaan-perusahaan rintisan di sektor teknologi finansial, edukasi dan kesehatan dikatakan akan menjadi sektor yang bakal memperoleh raupan besar tersebut. Pasalnya, perusahaan-perusahaan rintisan di ketiga sektor tersebut sedang berada di dalam perjalanan menuju status unicorn atau memiliki valuasi di atas US$10 miliar.

Malaysia Paling Dalam

Indonesia merupakan pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai ekonomi berbasis internet melebihi US$40 miliar pada 2019 serta pertumbuhan mencapai 49% per tahun.

Wajar saja, kendati cenderung turun, investasi startup di Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Lagi pula, penurunan investasi pada 2019 itu juga tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Penurunan nilai investasi juga terjadi pada usaha rintisan Singapura dan Malaysia. Malaysia mendapat penurunan tertinggi sebesar 52% dari US$150 juta (2018) menjadi US$85 juta (2019).

Grafik Turun Bisnis Rintisan
Sumber: Investment

Singapura turun dalam tahap wajar hanya 1,7% dari US$705 juta (2018) menjadi US$693 juta (2019). Filipina stagnan di angka US$33 juta.

Sinyal positif memang didapat Vietnam dan Thailand. Nilai investasi pada startup yang berbasis di Vietnam meningkat 158% dari US$287 juta (2018) menjadi US$741 juta (2019). Begitu pula dengan Thailand. Peningkatan investasi Negeri Gajah ini sebesar 62% dari US$80 juta (2018) menjadi US$130 juta (2019).

Baca Juga: Empat Perusahaan Rintisan Asal Indonesia Siap Jajaki Pasar Swiss

Centro Ventures menyebut pada 2019 ada dua startup yang mendapat investasi cukup besar. Traveloka mendapat US$420 juta dan VNPay sebesar US$300 juta. Startup lain seperti Ruangguru, Kredivo, Advance.ai, Tiki.vn dan Scommerce juga mendapat pendanaan yang besar. 

Startup yang sudah besar seperti Grab dan GoJek justru mendapat hasil sebaliknya. Centro memastikan pada 2019 nilai investasi yang diterima dua startup yang berbasis pelayanan ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Namun kedua startup ini mampu menghasilkan unit seperti jasa keuangan yang mampu meningkatkan modal secara mandiri. 

Grafik Turun Bisnis Rintisan
Sumber: Lensaindonesia

Selain itu, Edward meyakini dalam tiga tahun ke depan tingkat likuditas startup di Tanah Air akan mengalami pelonjakan, terutama jika perusahaan rintisan besar seperti Tokopedia sudah melakukan aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). 

Namun demikian, beberapa kasus kegagalan seperti yang dialami WeWork bisa memberikan tekanan kepada para investor. Kasus tersebut, membuat para investor enggan menanamkan modalnya hanya dengan tujuan 'bakar uang'. 

Sisi positifnya, kondisi tersebut akan memunculkan sinergi antara pemangku kepentingan di ekosistem perusahaan rintisan. Kreativitas serta kolaborasi untuk membangun value chain dalam berinvestasi akan terbentuk.

BACA JUGA: Cek EKONOMI & BISNIS, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait