Sumber: Istimewa

Hindari Penyebaran Virus Korona, Tembok Besar Cina Ditutup

Ceknricek.com -- Virus korona baru tak cuma mempengaruhi bisnis penerbangan, tapi juga industri pariwisata Cina. Dilansir Reuters, Sabtu (25/1), Pemerintah Beijing menutup beberapa bagian Tembok Besar China bagi pengunjung untuk membantu mencegah penyebaran virus yang mengerikan itu.

Total pengunjung Tembok Besar China sekitar 20 juta pada 2018. Saking banyaknya pengunjung, pada 1 Juni 2019, pihak berwenang mengumumkan pembatasan kuota harian, yakni 65.000 pengunjung. Bagian paling populer dari Tembok Besar China adalah Badaling. 

Selain Tembok China, Channel News Asia melaporkan beberapa tempat wisata lain juga ditutup sementara. Antara lain, Makam Ming dan Pagoda Yinshan yang ditutup mulai Sabtu (25/1).

Stadion Nasional Beijing atau yang lebih dikenal dengan Stadion Sarang Burung ditutup sejak Jumat (24/1). Sarang Burung ditutup hingga 30 Januari. Pertunjukan es dan salju di lapangan juga ditutup. Sementara pekan raya Tembok Besar dibatalkan di bagian Simatai dari Landmark yang terkenal.

Sumber: Istimewa

Shanghai Disneyland juga ditutup sejak Sabtu (25/1), sebagai tanggapan terhadap pencegahan dan pengendalian wabah penyakit. 

Baca Juga: Daftar 12 Negara yang Positif Terjangkit Virus Korona

Sebelumnya pihak berwenang Beijing telah membatalkan semua perayaan Tahun Baru Imlek secara besar-besaran. Dilansir CNN, Biro Kebudayaan dan Pariwisata Beijing membatalkan acara termasuk dua pameran kuil yang telah menarik banyak pengunjung dalam beberapa tahun terakhir.

Tahun Baru Imlek

Munculnya wabah tersebut bertepatan dengan Tahun Baru Imlek, dimana biasanya jutaan orang bepergian ke seluruh negeri dan dunia untuk mengunjungi keluarga.

Indikasi betapa seriusnya wabah itu, McDonald's telah memerintahkan penutupan cabang di lima kota di Provinsi Hubei, wilayah dimana dimulainya virus tersebut dan terbukti paling mematikan.

Sumber: AFP

Sebuah laporan yang dibagikan oleh para peneliti dari Universitas Lancaster di Inggris, Universitas Florida, dan Universitas Glasgow, memperkirakan hanya lima persen dari semua kasus virus korona sedang didiagnosis.

Dr Jonathan Read, seorang peneliti biostatistik di Lancaster, menulis: "Jika tidak ada perubahan dalam kontrol atau transmisi yang terjadi, kami khawatir wabah lebih lanjut akan terjadi di kota-kota China lainnya".

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait