Mengenal Lilik Sudjio, Sutradara Pertama Film Gundala Putra Petir | Cek&Ricek kula-coffee
Ilustrasi: Alfiardy/Ceknricek.com

Mengenal Lilik Sudjio, Sutradara Pertama Film Gundala Putra Petir

Ceknricek.com -- Lilik Sudjio. Nama ini mungkin tidak setenar Usmar Ismail, atau Nya’ Abbas Akup. Namun, pada era sinema layar tancap masih marak di Indonesia, namanya cukup populer dikenal masyarakat lewat film-film yang ia buat.

Lelaki yang meninggal hari ini, 5 tahun yang lalu, tepatnya pada 9 Desember 2014 ini, setidaknya telah menyutradari 68 film dengan aktor-aktor terkenal, seperti Benyamin Sueb, Rhoma Irama, hingga Roy Marten.

Dalam sejarah, film superhero Gundala yang diadaptasi  dari komik karya Harya Suraminata juga pernah ia garap pada 1981, dengan judul Gundala Putra Petir, jauh sebelum sineas Joko Anwar meluncurkan  film pahlawan super itu, Agustus 2019.

Sumber: Youtube

Besar di Teater Tobong

Arsip filmindonesia.or.id menyebutkan, Lilik Sudjio alias Astaman Jr lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 14 Mei 1930. Sejak kecil ia sudah mengikuti ayah angkatnya, Astaman Sr, salah satu pemeran utama dalam sandiwara keliling Dardanella (The Malay Opera 1926), pimpinan Willy Klimanoff alias A. Piedro.

Pada waktu itu, Astaman merupakan aktor kawakan grup sandiwara dari Sidoarjo, Surabaya, yang bergabung sejak 1910-an. Lilik alias Astaman Jr pun tumbuh di tengah lingkup dunia anak wayang dan tobong teater yang didirikan dadakan di lapangan atau alun-alun kota.

Sumber: Istimewa

Baca Juga: Mengenang Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional

Setelah lulus dari Sekolah Dasar dan Sekolah Teknik, pada 1947 sampai 1949, Lilik bergabung dengan sandiwara keliling Bintang Timur yang dipimpin oleh Djamaludin Malik. Selain sebagai pemain dan membantu penyutradaraan, ia juga mempelajari segi-segi setting dan dekorasi pentas sandiwara dalam group itu.

Foto: Istimewa

Tahun 1949, ketika ayahnya ditawari bermain film Saputangan (1949) produksi studio Bintang Surabaja, Lilik dan keluarga pindah ke Jakarta untuk ikut bermain dalam film tersebut. Dalam film arahan sutradara Fred Young, dan skenario Tjan Tjoe Hock itu, Lilik juga bermain sebagai pemain figuran.

Sumber: Flickr

Bermula sebagai kameo itulah, karena permainan aktingnya yang cukup baik, ia kemudian berturut-turut juga didapuk untuk bermain sebagai figuran dalam film Djembatan Merah (1950), Ratapan Ibu (1950), Damarwulan (1950), dan lain-lain.

Meski demikian, Lilik lebih banyak belajar mengenai sinematografi ketika dia bekerja di Studio Persari (Perseroan Artis Indonesia) di bawah pimpinan Djamaludin Malik yang dikenal sebagai Bapak Industri Film Indonesia. 

Di perusahaan produksi film tertua di Indonesia ini, Lilik  bekerja sebagai clapper boyscript boy, asisten sutradara, dan belajar sendiri editing. Selain itu ia juga  banyak belajar dari sutradara berpengalaman seperti Moh. Said tentang opname dan penyutradaraan film.

Melihat kesungguhan belajar Lilik, Djamaludin Malik kemudian mengirimnya ke Filipina. Di Studio LVN Manila, Lilik belajar montase dan penyutradaraan, hingga akhirnya ia pulang ke indonesia dengan membawa bekal lebih untuk menjadi sutradara baru di Tanah Air.

Menjadi Sutradara Terbaik

Tahun 1954, sepulangnya belajar dari Filipina, Lilik dipercaya menjadi sutradara merangkap editor dalam film Tarmina produksi PT Persari Films. Debut film itu langsung melambungkan namanya dalam Festival Film Indonesia (FFI) pertama tahun 1955.

Baca Juga: Teguh Karya: Maestro Teater dan Sinema Indonesia

"Dalam film inilah saya dapat penghargaan untuk penyutradaraan terbaik dalam Festival Film Indonesia pertama yang diselenggarakan di Jakarta," sebut Lilik dalam arsip Sinematek.

Dewan juri juga memutuskan Tarmina sebagai film terbaik. Namun, keputusan itu dianggap janggal oleh para kritikus. Mereka menilai film Lewat Djam Malam (1954) karya karya Usmar Ismail lebih pantas menjadi film terbaik. Setelah terjadi perundingan, lalu diputuskan Tarmina dan Lewat Djam Malam berbagi piala sebagai film terbaik dalam FFI tahun 1955.

“Kita bisa menyimpulkan bahwa Lilik cukup memiliki sesuatu dalam filmnya sehingga Tarmina didapuk sebagai pemenang Piala Citra,” kata Umi Lestari, peneliti dan kritikus film, dilansir dari Historia.

Meski menjadi sutradara terbaik, namun Lilik tak setenar sutradara seangkatan seperti Usmar Ismail atau Nya' Abbas Akup.

“Karena penulisan sejarah film Indonesia pada masa lalu lebih menekankan pada ‘kelompok’ tertentu, pembicaraan film Lilik tidak semarak. Meski demikian, pada nyatanya, sekitar tahun 1970-an dan 1980-an Lilik bisa membuat film populer, namun kontennya cukup politis,” jelas Umi.

Pada FFI berikutnya, film Lilik berjudul Anakku Sajang (1957) mendapat penghargaan pemeran utama pria terbaik, pemeran utama wanita terbaik, dan opname/kamera terbaik.

Pada 1960, Lilik Sudjio mendapat beasiswa dari Yayasan Rockefeller. Bersama dua rekan sesama sutradara, Nya’ Abbas Akup dan R. Djokolelono, dia kemudian memperdalam ilmu sinematografi selama satu semester di University of California, Los Angeles, (UCLA) Amerika Serikat. 

Baca Juga: Soekarno M Noor: Legenda Aktor Watak Indonesia

Kemudian hingga tahun 1962, dia menambah pengetahuan dalam teknik pembuatan film di Samuel Goldwin Studio, studio Walt Disney, dan studio Howard Anderson dalam bidang special effects.

Sumber: Istimewa

Setelah itu, Lilik pun aktif berkarya dan kerap menggandeng aktris kawakan Indonesia  seperti Suzanna hingga Doris Callebaute. Filmnya yang berjudul Yuda Saba Desa (1967) produksi Wahyu Film meraih penghargaan editing terbaik pada Pekan Apresiasi Film Nasional ketiga tahun 1967.

Sinematek mencatat, Lilik Sudjio telah menyutradarai 68 film semasa hidupnya. Bahkan 18 film dia tulis sendiri skenarionya. Selain Gundala Puta Petir (1981) beberapa filmnya yang terkenal antara lain Si Buta dari Goa Hantu (1970), Tarsan Kota (1974), Zorro Kemayoran (1976), Ratu Ilmu Hitam (1981), hingga serial Wiro Sableng yang tayang pada 1988. 

Sumber: Istimewa

Lilik aktif sebagai sineas hingga tahun 1990, dengan karya terakhirnya, Jaka Swara yang diproduseri oleh Asrul Sani, dengan menggaet aktor Rhoma Irama, Camelia Malik, Piet Pagau, Gino Makasutji, dan yang lain.

Pada 9 Desember 2004, setelah 74 tahun membaktikan hidupnya untuk khazanah film modern di Indonesia, Lilik Sudjio tutup usia. Ia mewariskan puluhan karya yang turut memberi warna sejarah sinema di Tanah Air. 

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait