Ilustrasi: Alfiardy/Ceknricek.com

Mengenang Ir Sutami “Menteri Kere” Kesayangan Sukarno dan Suharto

Ceknricek.com -- Pernah melihat atau melewati Jembatan Semanggi di Jakarta? Jembatan menyerupai daun semanggi yang berada di persimpangan antara jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto  ini adalah salah satu karya Insinyur Sutami.

Karena takjub akan hasil kerja konstruksi jembatan tanpa tiang inilah, pada 1966, Insinyur Sutami ditunjuk langsung oleh Presiden Sukarno untuk menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan menjabat sebagai menteri PU terlama dalam sejarah kabinet di Indonesia (1966-1978).

Buah karya dari Insinyur yang meninggal hari ini, 39 tahun silam, 13 November 1980 itu bukan hanya Jembatan Semanggi. Ia juga membuat Gedung Conefo atau yang kita kenal sebagai Gedung DPR/MPR.

Kiprah Insinyur Sutami

Sutami lahir di Solo dari keluarga sederhana pada 19 Oktober 1928. Ayahnya, Raden Ngabehi Mloyowiguno adalah pegawai karawitan Keraton Surakarta. Ia tumbuh dalam keluarga seni dan tradisi Jawa yang kental hingga mulai belajar menabuh gamelan dan menari sejak kecil.

Meski demikian, takdir sepertinya tidak membawa Sutami pada jalur kesenian. Setelah mengenal pelajaran hitung menghitung, Sutami sepertinya lupa pada hobi lamanya. Ia mulai keranjingan dan terobsesi pada pada pelajaran aljabar. Cita-citanya adalah ingin menjadi Insinyur.

Sumber: Istimewa

Setelah lulus dari SMA Negeri I Surakarta pada 1950, Sutami kemudian mewujudkan cita-citanya dengan masuk Sekolah Tinggi Teknik (sekarang ITB) Bandung. Dalam tempo waktu enam tahun ia kemudian mendapatkan gelar Insinyur dari perguruan tinggi tersebut.

Setelah lulus pada 1956, ia magang menjadi asisten mata kuliah Bangunan Air dan Mekanika Teknik ITB Bandung dan asisten konstruksi beton di Akademi Teknik pekerjaan Umum dan tena (ATPUT) di Bandung. Selain itu, ia juga sempat menjadi guru mata pelajaran  mekanika teknik di Sekolah Teknik Menengah, Bandung.

Di ruang kerja Departemen Pekerjaan Umum Foto: Reno Hastukrisnapati/repro majalah Prisma, 1991

Baca Juga: Sekelumit Kisah Des Alwi, Anak Angkat  Bung Hatta dan Bung Sjahrir 

Berkat keuletannya, satu dekade kemudian Sutami diangkat menjadi Direktur Utama Perusahaan Negara Hutama Karya, yang bertanggung jawab pada beberapa proyek nasional pada masa pemerintahan Presiden Sukarno.

Sumber: Istimewa

Pada masa ini dia sempat memperbaiki Stadion Utama Senayan jelang Asian Games IV pada 1962, membangun Jembatan Musi pada tahun 1963, dan kemudian membangun Gedung Conference of the New Emerging Force (Gedung Conefo) pada tahun 1965. Gedung itu kini yang dikenal sebagai Gedung DPR/MPR.

Sumber: Istimewa

Namun tentu saja salah satu hasil karyanya yang paling terkenal adalah Jembatan Semanggi yang ia buat pada tahun 1961 dan cukup menuai pro- kontra dari berbagai insinyur teknik bangunan. Sutami pada waktu itu menerapkan teknologi prestressed concrete atau konstruksi beton prategang yang belum pernah diterapkan di Indonesia tanpa menggunakan tiang.

Sumber: Istimewa

“Penerapan teknologi prestressed concrete saat itu memang sempat menuai pendapat pro dan kontra, serta diskursus di tataran akademik. Pasalnya, kekuatan dan keandalan struktur jembatan tersebut dipertanyakan,” tulis Yusmada Faisal Samad, Kepala Dinas Bidang Marga dikutip dari Kompas.

Baca Juga: Eddie Lembong: Legenda Industri Obat dan Penyambung Multikulturalisme Indonesia

Apa yang menjadi keraguan itu terjawab saat peresmian pada 1962, Insinyur Sutami melakukan aksi heroik dengan mengendarai sebuah Jeep untuk menuju ke tengah bentangan jembatan untuk membuktikan bahwa struktur jembatan itu kuat. 

"Apa yang kita saksikan sekarang, setelah 57 tahun Jembatan Semanggi masih tetap kokoh bertahan," ungkap Faisal lebih lanjut.

Diangkat Menjadi Menteri

Pada tahun 1966, karena terkesan terhadap  beberapa hasil pekerjaan Sutami,  Presiden Sukarno  mengangkatnya  sebagai Menteri Negara Kordinator Pekerjaan Umum dan tenaga dalam Kaninet Dwikora yang disempurnakan, lewat keputusan Presiden RI No. 38 tahun 1996 pada tanggal 21 Februari 1966.

Saat Sukarno lengser dari Jabatan Presiden dan digantikan oleh Presiden Suharto, nama Sutami tetap harum. Suharto kemudian mengangkatnya kembali menjadi Mentri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik pada tahun 1968 hingga berakhir pada tahun 1978.

Baca Juga: Mengenang Agus Salim: The Grand Old Man Indonesia

Pada zaman itu sebenarnya cukup sulit bagi seorang mentri yang pernah duduk dalam kabinet Sukarno diangkat kembali menjadi menteri pada era Presiden Suharto. Pertimbangan pengangkatan Sutami dalam Kabinet Orde Baru ini rupanya dilandasi oleh nama baiknya yang cukup sering menjauhi ingar bingar dunia politik.

Sumber: Istimewa

Tatkala menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum, di tangan Sutami Indonesia memang menjadi negara dengan pembangunan yang cukup agresif dengan membangun berbagai sarana umum seperti jalan tol, jembatan, pembangkit tenaga listrik dan lain sebagainya.

Meski demikian, Sutami yang menangani proyek bernilai miliaran bahkan triliunan itu tetaplah hidup sederhana. Rumahnya bahkan dikisahkan sering bocor, nunggak bayar listrik dan kisah-kisah sengsara lain. Inilah yang kemudian ia dikenal sebagai "menteri kere". 

Tahun 1978, saat terjadi pelimpahan jabatan dalam Kabinet Pembangunan Orde Baru, Sutami tidak lagi menerima jabatan menteri. Mundurnya Sutami ini datang dari keinginannya sendiri lantaran kondisi kesehatannya yang semakin memburuk sejak awal tahun 1977. 

Sumber: Kumparan

Menurut sejumlah pewartaan, penyakitnya ini ditimbulkan akibat kekurangan gizi dan kelelahan. “Akibat sakitnya inilah yang menyebabkan Sutami meminta pada presiden agar bisa berhenti menjadi menteri PU,” tulis Tempo.

Berdasarkan pemberitaan Kompas, Sutami mulai dirawat di rumah sakit sejak 12 Maret 1978 akibat gangguan penyakit lever kronis. Setelah menjalani perawatan intensif dan serangkaian operasi selama hampir dua tahun, Sutami mengembuskan nafas terakhir di usia di umur 52 tahun, pada 13 November 1980. 

J.B. Sumarlin, Emil Salim,Roesmin Nuryadin, Subroto (membelakangani kamera) memayungi peti jenazah Ir Sutami di TPU Tanah Kusir, 
Foto: Koleksi Emir Sanaf

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait