Foto: Thomas Rizal/Ceknricek.com

Richard Oh: Sutradara Itu Harus Berani Inovasi

Ceknricek.com -- Sineas tanah air, Richard Oh menilai saat ini film-film di Indonesia mulai bisa bersaing di luar negeri. Namun di sisi lain, ia mengaku masih banyak sutradara-sutradara film lokal yang masih memiliki pola pikir tradisional, yakni agar filmnya laku secara komersial semata.

"Saya pikir banyak film-film bagus kita sudah pecah ya. Tak hanya di dalam negeri, namun juga mulai tampil keluar negeri. Seperti film-film Joko Anwar, lalu sutradara lain yang saat ini mulai siap menghasilkan film yang bisa bersaing dengan film luar," kata Richard Oh saat ditemui ceknricek.com di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/11).

"Di satu sisi kita sudah maju, namun di sisi lain kelompok besar masih sama saja. Saya pikir bila kita tidak ada inovasi dan berani berbeda, maka industri kita begini-begini saja," ujar sutradara berusia 60 tahun itu.

Richard Oh: Sutradara Itu Harus Berani Inovasi
Foto: Thomas Rizal/Ceknricek.com

Sebagai sutradara yang dikenal kerap melakukan eksperimen dalam film-filmnya, Richard menilai para sutradara lain juga perlu menunjukkan visi-visi mereka melalui karya. Hal ini merupakan hal yang menyegarkan bagi industri film.

"Kita harus mulai tonjolkan sutradara-sutradara dengan visi yang berani, harus bisa mengeluarkan visi yang menyegarkan. Kalau tidak kita bisa seperti di Thailand, karena orang Thailand saat ini tidak menonton film komersial lokal mereka. Akibatnya, saat saya produksi di sana, mereka lebih banyak garap film-film Indonesia," ujar Richard.

Sineas yang sebelumnya juga menggarap film-film seperti Perburuan (2019), Terpana (2016), dan Melancholy is a Movement (2015) baru saja merampungkan film teranyarnya, Love is A Bird (2019). Film ini rencananya akan bisa dinikmati di bioskop-bioskop tanah air pada Kamis (14/11).

Baca Juga: Love is A Bird, Cinta Itu Membebaskan

Untuk film terakhir ini, Richard mengaku dirinya tidak mengharapkan keuntungan komersial dari film itu. Dengan anggaran sekitar Rp1 miliar, film bergenre drama romantis diharapkan bisa menjadi inovasi untuk karya-karya film lokal.

"Kepentingan saya saat ini setelah film ini selesai, para pemain, kru dan penonton mereka nonton. Mereka bangga dengan kontribusi mereka, saya sudah lega. Karena sebagai orang film, kita hidup dari film, kalau kita tidak bisa berkarya dan berekspresi, lama kelamaan kita akan mati. Jadi bukan sekadar komersial," ujar Richard.

Richard Oh: Sutradara Itu Harus Berani Inovasi
Foto: Thomas Rizal/Ceknricek.com

Film berdurasi 85 menit ini disebut-sebut terinspirasi dari buku Please Follow Me karya Sophie Calle dan Jean Baudrillard. Film ini berada dalam naungan Timeless Pictures dan Metafor Pictures.

Love is A Bird juga menyajikan berbagai kejadian alam yang tertangkap oleh kamera seperti pantulan cahaya petir yang memperlihatkan keindahan cahaya saat prosesi shooting sedang berlangsung. Adegan demi adegan diambil dengan penempatan waktu yang tepat, yang sangat diperhatikan saat proses shooting sedang berjalan.

Film ini diperankan oleh Ibel Tenny, aktor Malaysia Bront Palarae (Gundala, 2019), Ibnu Widodo, dan Gemilang Sinatrya. Film ini juga akan menghadirkan penampilan spesial dari Morgan Oey.

BACA JUGA: Cek Berita SELEBRITI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait