Foto: Instagram/sebelasfilm

CNR INDONESIA MOVIE RATING 0011: 11:11 Siluman Laut Tanjung Biru Penjaga Kapal Karam

IMR & AMR

NILAI IMR
(Indonesia Movie Rating)
4 : Terserah
5 : Biasa Saja
6 : Cukup
7 : Lumayan
8 : Menarik
9 : Bagus
10 : Luar Biasa

NILAI AMR
(Anjuran Menonton Rating)
4 : Membuang Waktu dan Uang
5 : Tunggu, tak Perlu Ditonton
6 : Boleh Nonton kalau ada Waktu
7 : Memenuhi Syarat Tontonan
8 : Asyik sebagai Hiburan
9 : Direkomendasikan untuk Ditonton
10 : Jangan Lewatkan!

---

IMR 011
11:11
Siluman Laut Tanjung Biru Penjaga Kapal Karam
Ulasan : Yan Widjaya
Nilai IMR & AMR : Oleh Komite IMR

Credit Title

LSF : 17+
Durasi : 108 Menit
Tayang : 21 Februari 2019
Genre : Horror
Para Pemain : Bayu Anggara, Twindy Rarasati, Fauzan Smith, Rendy Kjaenett, Toriq, Lady Nayoan, Iin Hermayani
Skenario : Baskoro
Cerita : Baskoro
Sutradara : Andy Manoppo
Produser : Alfani Wiryawan, Rangga Wijaya, Yanti Basamondo
Produksi : Layar Production, Cinema 8


TANJUNG BIRU, 2008, Dewi yang bertugas sebagai penjaga pantai, mendengar ada dua penjahat yang ingin menjarah harta kapal karam Jepang. Ia bergegas berangkat untuk mencegah kejahatan mereka. Namun sudah terlambat, bukan saja kedua penjahat juga Dewi sendiri raib ditelan keganasan laut!

Sepuluh tahun kemudian, putera tunggal Dewi, Galih telah menjadi mahasiswa arkeolog di Jakarta. Bersama tiga sahabatnya; Ozan, Vania, dan Martin, ia menggemari olah-raga diving dan fotographi. Demi memenangkan lomba pemotretan alam bawah laut, mereka berempat pergi ke Tanjung Biru di Bandar Lampung.

Sejak tiba di pantai yang sunyi terpencil mereka sudah mendapat peringatan dari pawang desa untuk tidak menyelam ke belakang pulau Tanjung Biru. Dan pada pukul 11:11 menjelang tengah malam, Galih bermimpi disambangi ibunya yang hilang sejak ia kecil.

Dasar anak-anak muda yang belum mengenal bahaya, mereka melanggar pantangan. Menyelam dan mengambil artefak dari kapal Jepang yang sudah lama karam. Akibatnya mereka menggugah kemurkaan siluman penunggu laut. Dan tidak ada seorang pun yang mampu menghindar dari kejaran sanmg siluman yang menuntut jiwa mereka!

Galih yang ingin mengungkap rahasia menghilangnya sang bunda, sekaligus juga ingin menyelamatkan jiwa Vania yang dicintainya, tapi bagaimana caranya? 


Hantu tak Seram

SEMUA produser selalu bilang, “Film produksi saya ini lain dari yang lain, berbeda dengan film yang sudah ada!”

Kenapa begitu? Tentu saja karena ia tidak menonton semua film yang beredar di bioskop, yang dilihatnya hanyalah filmnya sendiri, atau produksi teman-temannya belaka. Berbeda halnya dengan para wartawan atau pengamat film yang memang kerjanya setiap hari menonton film, minimal tiga kali film Indonesia per minggu. Mereka dengan segera mampu mengendus persamaan antara film yang satu dengan yang lain.

Sebagai contoh nyata adalah penggunaan drone, pesawat tanpa awak yang terbang ke langit dengan membawa kamera, untuk merekam gambar dari ketinggian. Itu terlihat dalam prolog banyak film horor yang beredar mutakhir, ketika mobil yang ditumpangi para pelaku menuju ke luar kota, melewati jalan berliku melintasi hutan dan bukit. Sesungguhnya semua gerak kamera itu ada maksudnya, apa arti pengambilan gambar dari atas, atau sebaliknya dari bawah.

Kembali kepada film 11:11, apa keistimewaan yang menonjol dari film urban horor ini? Satu-satunya hanyalah pengambilan gambar di dasar laut. Padahal sudah pernah dilakukan misalnya dalam trilogi Pulau Hantu yang dibesut Jose Poernomo yang memang memiliki kamera under-water untuk merekam adegan-adegan bawah air.

Indonesia memang memiliki panorama dasar laut luar biasa indahnya, seperti di Raja Ampat atau Bunaken yang airnya sejernih cermin. Tapi lokasi film ini di Lampung, kawasan bawah laut Karang Hiu dan Pulau Pahawang Kecil, namun karena kondisi cuaca tidak menguntungkan, maka beralih ke sekitar perairan pulau Bali.

Sutradara Andy Manoppo termasuk sineas baru, sedangkan para pemain pun terdiri dari bintang-bintang muda yang belum terlalu populer. Hanya Randy Kjaenett yang sudah berpengalaman bermain beberapa film. Sedangkan satu-satunya pemeran wanita, Twindy Rarasati, dicomot dari serial televisi The East.

Foto: Instagram/sebelasfilm

Sebagai film horor, tokoh hantu Siluman Laut Tanjung Lesung tidak terlalu jelas wajah dan sosoknya, seperti wanita berambut panjang berkulit hitam pekat. Dan ia semudah membalikkan telapak tangan mencabut nyawa orang-orang yang diincarnya tanpa perlawanan secuil pun! Penonton tidak merasakan keseraman dan kengerian yang diusung oleh sang hantu. Jadi teringat pada film mega sukses karya James Cameron, Titanic, yang mungkin sekarang dijaga oleh arwah-arwah nenek Rose Dewitt Bukater dan kekasih setianya, Jack Dawson.

Akhirnya yang terasa menjadi pesan dalam film 11:11 adalah pelestarian lingkungan alam. Janganlah alam bawah laut, termasuk kapal-kapal yang karam, tidak boleh diusik, apalagi dijarah harta-karunnya, biarlah mereka kekal abadi selamanya di sana.

IMR    : 5

AMR  : 4.2

...

Untuk Iklan dan Partnership:
Whatsapp: 0816710450




Berita Terkait