CNR INDONESIA MOVIE RATING 0004: LAUT (The Man From The Sea) | Cek&Ricek
Foto: Youtube

CNR INDONESIA MOVIE RATING 0004: LAUT (The Man From The Sea)

IMR & AMR

NILAI IMR
(Indonesia Movie Rating)
4 : Terserah
5 : Biasa Saja
6 : Cukup
7 : Lumayan
8 : Menarik
9 : Bagus
10 : Luar Biasa

NILAI AMR
(Anjuran Menonton Rating)
4 : Membuang Waktu dan Uang
5 : Tunggu, tak Perlu Ditonton
6 : Boleh Nonton kalau ada Waktu
7 : Memenuhi Syarat Tontonan
8 : Asyik sebagai Hiburan
9 : Direkomendasikan untuk Ditonton
10 : Jangan Lewatkan!

---

IMR 004


LAUT
(The Man from the Sea)
Pemuda Jepang Ajaib Terdampar di Aceh
Ulasan : Yan Widjaya

Credit Title
Produksi : Nikkatsu
Distributor : Kaninga Pictures
Produser : Naoko Komuro, Yoshi Kino
Sutradara : Koji Fukada
Cerita-Skenario : Koji Fukada
DOP : Koji Fukada
Para Pemain : Dean Fujioka, Taiga, Junko Abe, Adipati Dolken, Sekar Sari, Mayu Tsurota
Genre : Drama Artistik
LSF : Untuk 13 Tahun ke Atas
Durasi : 107 Menit
Tayang : Mulai 14 Februari 2019


BANDA ACEH, paska Tsunami, seorang pemuda terdampar di pantai. Bugil, dan tidak ingat apa-apa, kemungkinan amnesia. Tidak juga mampu berbahasa Indonesia, toh memahami bahasa Jepang. Maka ia dirawat oleh Takako dan puteranya, Takashi, serta keponakannya. Sachiko, tiga orang Jepang asli yang menjadi sukarelawan penanggulangan bencana. Karena tak ingat lagi pada namanya, pemuda asing ini diberi nama baru, Laut.
Ia cepat akrab dengan pemuda sukarelawan Kris dan Ilma yang ingin menjadi wartawati karena gemar memotret apa saja. Dengan segera Ilma menyadari kalau Laut mempunyai keistimewaan, antara lain seperti bisa berbicara dalam bahasa hewan, misalnya rama-rama. Bukan itu saja, bahkan Laut mampu menyembuhkan anak-anak yang sakit demam panas. Berbagai mukjizat dilakukan Laut hingga membuat sahabat-sahabatnya takjub.
Siapakah sebenarnya Laut? Apakah ia malaikat yang turun ke bumi, atau manusia amphibi? Laut yang memberi, laut pulalah yang mengambilnya kembali, begitu bunyi tagline-nya...

Jepang –Indonesia
Judul film ini mengingatkan pada cerpennya Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea (terbit 2 Desember 1952), yang bertutur tentang seorang nelayan tua di Cuba, sendirian mengarungi laut luas selama 84 hari dihela seekor ikan besar tanpa mau mengalah dengan mengerat putus senar pancingnya. Cerpen karya novelis-petualang legendaris Amerika tersebut kemudian difilmkan pada tahun 1958 dengan sutradara John Sturges, dan diperani aktor watak kawakan Spencer Tracy yang mendapatkan penghargaan nominee Oscar.


Tetapi film drama ini bukanlah diilhami dari film tempo doeloe Amerika tersebut, melainkan merupakan kerja sama antara Jepang dengan Indonesia. Bukan untuk pertama kalinya terjadi joint production seperti ini, sebagai kilas balik, antara lain adalah:
- Nemoru Otoko/Sleeping Man/Lelaki Tidur (1996) yang dibintangi Christine Hakim, Ahn Sung-ki, dan Koji Yakusho. Bercerita tentang seorang lelaki yang mengalami koma hingga tidur terus, dan dirawat oleh Christine.
- Merdeka 170805/Freedom 170805 (2001) produksi bersama Toho – Rapi Films, berlatar perang kemerdekaan Republik Indonesia. Sayangnya, film perjuangan ini tidak beredar di bioskop kita.
- Killers/Kirazu (2014) produksi Nikkatsu, diarahkan The Mo Brothers, sebuah thriller tentang pembunuh sakit jiwa yang sangat berbahaya, dibintangi Oka Antara, Kazuki Kitamura, dan Luna Maya.
Misteri pemuda yang diberi nama Laut memang tak diungkap tuntas oleh sutradara Koji Fukada. Yang jelas dia bukanlah superhero Aquaman dari kerajaan dasar samodra Atlantis. Genre film ini drama artistik yang kental dengan simbol-simbol hingga termasuk sebuah art fantasy movie, bukan film fiksi komersil biasa. Penafsiran setiap penonton jelas berbeda-beda, terpulang kepada pemahaman masing-masing. Tidak heran kalau kemudian ada yang sangat menyukainya hingga menyanjung tinggi sebagai, “Ini film bermutu yang patut disertakan dalam berbagai festival internasional!” Sebaliknya ada pula yang menyebutnya, “Boring, menjemukan, dan membuat penonton mengantuk sampai tak terasa ketiduran di dalam bioskop!”

Foto: variety.com

Untuk peredaran di Jepang dan seluruh dunia memang ditangani langsung oleh Nikkatsu yang sudah berpengalaman seratus tahun serta diakui sebagai salah satu perusahaan film tertua di negeri bunga sakura. Sedangkan untuk rilis khusus di dalam negeri, Indonesia sendiri, dipercayakan pada Kaninga Pictures yang dipimpin Willawati. Antara lain Kaninga sudah memproduksi film-film Bid’ah Cinta, Terjebak Nostalgia, dan The Returning.
Prestasi Koji Fukada sudah mengarahkan sembilan film, antara lain adalah, Human Comedy in Tokyo, Au Revoir L’Ete, Sayonara, dan Harmonium. Sayangnya belum ada karyanya yang beredar di bioskop kita, selain daripada Laut yang seantero lokasi syutingnya betul-betul ber-setting di Banda Aceh, Sumatera Utara.


Didapuk sebagai Laut, aktor muda Dean Fujioka yang kini berusia 38 tahun dan berprestasi bermain dalam 29 film serta serial TV. Antara lain filmnya yang popular di dunia internasional; Ninja the Monster dan Got Crazy Gangster.
Lewat seleksi ketat, Fukada akhirnya menjatuhkan pilihannya pada dua artis Indonesia. Yang pertama, Adipati Dolken. Bintang berusia 27 tahun ini sudah merampungkan 25 film sejak film debutnya, Putih Abu-abu dan Sepatu Kets (2000), termasuk berperan sebagai pahlawan nasional Jenderal Soedirman. Menyabet piala Citra Aktor Pendukung Terbaik Festival Film Indonesia 2013 di Semarang, lewat perannya di film perjuangan Sang Kiai.
Dolken didampingi Sekar Sari, artis dan penari asal Jogjakarta, yang berhasil menembus berbagai festival di dalam dan luar negeri lewat besutan Eddie Cahyono, Siti (Film Terbaik FFI 2016). Kalau dalam film itu Sekar bermain sebagai isteri menderita yang terpaksa menjadi pramuria di kafe kampung pantai Bantul, Jogja Selatan, sekarang ia tampil sebagai gadis berjilbab di Tanah Rencong Aceh.
*
Nilai IMR   : 8
Nilai AMR  : 7,2

-------------
Untuk Partnership:
0816710450



Berita Terkait