Mengenang Anwar Sadat: Presiden Pemberani dari Mesir | Cek&Ricek

Mengenang Anwar Sadat: Presiden Pemberani dari Mesir

Ceknricek.com -- Tepat pada tanggal hari ini, 37 tahun lalu, 6 Oktober 1981, Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, sedang menonton parade militer memperingati Perang Yom Kippur 1973. Duduk di bangku kehormatan ia sama sekali tak menyangka maut segera datang menjemput.

Para pembunuhnya sedang menanti waktu yang tepat. Saat semua orang sedang mendongak menyaksikan manuver pesawat tempur, kendaraan militer yang mereka tumpangi lewat di depan Pak Presiden, empat pria bersenjata sontak melompat, berlari ke arah Sadat dan memberondong target dengan peluru dari jarak dekat.  

Dua jam kemudian, Anwar Sadat dinyatakan tewas dalam usia 62 tahun. Sementara 20 orang lainnya luka-luka, termasuk 4 diplomat Amerika Serikat. Pelakunya adalah anggota organisasi Jihad Islam yang menolak Perjanjian Camp David antara Israel dan pihak Kairo pada 1979 -- inisiatif perdamaian negara Arab pertama dengan negeri zionis.

Kiprah Anwar Sadat

Muhammad Anwar el-Sadat  lahir di Mit Abul-Kum, sebuah desa sekitar 100 kilometer dari Kairo, 25 Desember 1918. Ayahnya, Mohammed el-Sadat   seorang kerani di Angkatan Bersenjata yang ditugaskan di Sudan. Sementara itu, Ibunya yang dikenal sebagai Sit el-barein atau Ny. Dua Sisi merupakan keturunan Mesir campur Sudan.  Dari ibunya inilah Anwar mewarisi kulit kehitam-hitaman. 

Tahun 1938, setelah lulus dari Royal military Academy di Kairo, Sadat muda ditugaskan di Sudan (kala itu masih menjadi satu dengan Mesir) dengan pangkat letnan kedua. Di sinilah ia bertemu dengen Gamal Abdul Nasser, salah satu kawan terbaiknya yang sama-sama membenci korupsi akut di tubuh Monarki Raja Faruk serta dominasi Inggris di berbagai sektor dalam negeri. 

Mengenang Anwar Sadat: Presiden Pemberani dari Mesir
Sumber: Wiki

Baca Juga: Mengenang Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi

Kebencian itu berevolusi menjadi organisasi militer rahasia bernama Free Officer. Dua puluh tahun kemudian  Sadat dan kwan-kawan benar-benar melancarkan revolusi sungguhan untuk menggulingkan Raja Faruk dari tahtanya pada 1952. Sosok Sadatlah yang kemudian mengumumkan kemenangan revolusinya lewat siaran radio ke seluruh pelosok Mesir. 

Pada 1964, setelah memegang berbagai jabatan dalam pemerintahan Mesir, Sadat dipilih Presiden Gamal Abdel Nasser untuk menjabat sebagai Wakil Presiden. Ia menduduki jabatan itu hingga 1966, dan sekali lagi dari 1969 hingga 1970. Setelah Nasser meninggal pada 1970, Anwar Sadat dilantik menjadi Presiden pada 20 Oktober di tahun yang sama dengan kematian pendahulunya. 

Pada 1973, Anwar Sadat, bersama-sama dengan Hafez Al Assad, Syria, memimpin Mesir dalam Perang Yom Kippur (Perang Oktober) melawan Israel, untuk merebut kembali semenanjung Sinai, yang dicaplok oleh Israel ketika Krisis Terusan Suez 1956 dan Perang Enam Hari.

Mengenang Anwar Sadat: Presiden Pemberani dari Mesir
Sumber: Tasnimnews.com

Meskipun dalam pertempuran ini masih dipertentangkan pihak menang ataupun kalah, serta hasil Perjanjian Camp David yang menetapkan Sinai kembali ke tangan Mesir, keberhasilan Anwar Sadat menaikan moral rakyat Mesir dan Dunia Arab dari kekalahan mereka di Perang Enam Hari pada 1967.

Namun, peperangan Yom Kippur itu seperti membuka mata Sadat dan analisis politik di dunia Arab lain atas sebuah fakta penting bahwa Israel tidak dapat dikalahkan secara militer. Dari sinilah Sadat kemudian menempuh pekerjaan yang berisiko sangat besar bagi dirinya sendiri untuk sebuah perdamaian yang ia upayakan. Kematian.

Mengapa Sadat Dibunuh?

Bagi penduduk Mesir Anwar Sadat adalah pemimpin yang kharismatik, penuh gairah, dan juga kontroversial. Bagaimana tidak? Pengganti Gamal Abdel Nasser itu meluncurkan serangan mendadak ke Israel, namun ia juga  kemudian yang menandatangani perjanjian perdamaian dengan negara itu.  

Tidak hanya itu, Sadat juga membuat kaget rakyat Mesir, termasuk orang-orang dekatnya di saat ia pergi ke Yerusalem untuk menyampaikan pidatonya di Knesset atau Parlemen Israel. Dimana kemudian ini menjadi salah satu upayanya untuk mengakhiri perang  dengan perdamaian antara dunia Arab dengan Israel lewat perjanjian yang ditandatangani di Gedung Putih, Washington DC pada 26 Maret 1979. 

Mengenang Anwar Sadat: Presiden Pemberani dari Mesir
Sumber: Wikipedia

Baca Juga: In Memoriam Muhammad Mursi

Di Mesir, kebijakan Sadat ini dinilai sangatlah kontroversial. Bagi kubu fundamentalis, seperti Aboud Al-Zomor, seorang perwira intelijen militer, perjanjian damai dengan Israel adalah alasan bahwa sang presiden harus dihabisi karena dianggap menghianati cita-cita Pan Arabisme.

Saat kejadian, arena dipenuhi personel militer yang menyandang senjata dengan peluru kosong. Namun, para algojo pembunuh Sadat berhasil menyelundupkan peluru dalam senapan serbu AK-47. Al Zomor, salah satu pendiri kelompok jihad, mengaku sebagai pemasok amunisi dan tahu persis soal plot pembunuhan.  

Meskipun demikian, bukanlah Zomor yang memberi arahan. "Aku tahu soal itu tapi tidak memberitahukannya ke aparat. Itu satu-satunya kesalahanku," kata dia, seperti dikutip dari NBC News. Zomor mengatakan, otak pembunuhan Sadat adalah perwira militer bernama Khaled El Islambouly. Islambouly, yang juga memimpin penembakan, ditangkap dan dieksekusi pasca-kejadian.

Mengenang Anwar Sadat: Presiden Pemberani dari Mesir
Sumber: Gettyimages

Sementara, Zomor diganjar hukuman seumur hidup. Namun, ia dibebaskan karena mendapatkan amnesti pasca-revolusi Mesir yang menggulingkan Hosni Mubarak tahun 2011. Zomor tak pernah menyesali perbuatannya, meski ia menyebut Anwar Sadat lebih baik dari Mubarak. "Setidaknya ia (Sadat) tak pernah makan uang rakyat." 

Salah satu orang yang merekomendasikan kebebasan Zomor adalah keponakan Sadat, Talat Sadat. Ia menganggap Zomor harus dibebaskan, untuk membuktikan bahwa Mesir masih taat aturan hukum.

"Dia sudah lama dipenjara. Baiklah, dia bisa pergi," kata Talat. Namun, dia menegaskan Zomor bukanlah pahlawan. "Dia pikir dirinya pahlawan? Apa yang sudah ia lakukan? Membunuh Sadat? Itu bukan tindakan heroik."

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait