Foto: Istimewa

Proyeksi 2020: Jebakan Angka 5

Ceknricek.com -- Keluar dari jebakan angka 5 tampaknya tidak bakal mudah. Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF bahkan memproyeksikan lebih buruk lagi. Lembaga kajian ekonomi ini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai 4,8% pada 2020. Keluar dari zona 5, tapi ke tempat yang lebih rendah. Turun kelas. Angka ini jauh di bawah target pemerintah yang 5,3%.

Sejumlah lembaga internasional juga memproyeksikan di kisaran angka 5%. Organisation for Economic Cooperation and Development atau OECD, misalnya, memprediksi pas, 5%. Tidak kurang tidak lebih. Dana Moneter Internasional atau IMF dan World Bank memprediksi 5,1%. Lalu Asian Development Bank atau ADB memperkirakan 5,2%. Jadi proyeksi INDEF adalah yang paling pesimistis.

Lembaga-lembaga dunia, juga INDEF, tentu punya kalkulasi yang mendasar untuk menemukan angka proyeksi tersebut. Begitu juga pemerintah. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, meyakini pertumbuhan ekonomi 5,3% optimistis bisa tercapai. Ia berdalih, kebijakan omnibus law yang akan rampung 2020 akan mendorong pertumbuhan.

Sumber: Ekbis

Di sisi lain, eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China mulai mereda. Sejalan dengan perang dagang yang mereda, permintaan global akan kembali stabil bahkan meningkat. "Bahkan kalau omnibus law-nya selesai, itu bisa lebih tinggi dari 5,3%,” ujar Iskandar seperti dikutip Tempo, Selasa (26/11).

Baca Juga: Proyeksi 2020 Indef: Ancaman Resesi Ekonomi

Sejalan dengan omnibus law yang bakal rampung investasi ke Indonesia akan bisa meningkat. Selain berisi penyederhanaan perizinan, omnibus law juga mencakup soal cipta lapangan kerja serta pemberian insentif pajak.

Sumber: Jakarta Review

Apalagi, kata Iskandar, saat ini belum ada tanda-tanda konsumsi bakal melemah. Dari sisi, kebijakan tax holiday per tanggal 20 Oktober 2019, sudah diberikan sampai Rp525 triliun untuk 35 Wajib Pajak (WP). "Jadi sederhana saja, dengan data-data itu saya sangat tidak yakin 4,8%. Saya sangat yakin setidaknya 5,3% atau bisa lebih kalau proyeksi saya," tuturnya.

Tak Sesuai Ekspektasi

INDEF tentu juga tak asal membuat proyeksi. Lembaga kajian ini menyoroti lemahnya pertumbuhan komponen investasi dan perdagangan (ekspor-impor) yang tak sesuai ekspektasi. Dua komponen tersebut yang paling terkena dampak adanya pelemahan ekonomi global. Kendati demikian, komponen konsumsi masih diprediksi tetap tumbuh 5%.

Sumber: Edunews

“Perkembangan data-data makro ekonomi hingga saat ini secara umum merefleksikan 2020 sebagai tahun perlambatan perekonomian. Wajah perekonomian negara-negara besar masih terlihat suram, baik itu Amerika Serikat, China, maupun Uni Eropa,” tulis INDEF.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang belum membaik secara keseluruhan, ada yang mendapat manfaat dari perang dagang, namun tidak sedikit juga negara yang mengalami kerugian baik langsung maupun tidak langsung.

Baca Juga: Pajak: Memburu Pemilik Rekening Bank

Menurut INDEF, laju perekonomian Indonesia pada 2020 diperkirakan masih akan mendapat tantangan tidak ringan dari sisi perdagangan, investasi, dan konsumsi. Itu sebabnya, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok oleh Pemerintah dalam APBN 2020 sebesar 5,3% tidak akan mudah untuk dicapai.

Sungguh pun banyak pihak menyatakan bahwa potensi ekonomi Indonesia sesungguhnya besar. Namun, melihat kinerja pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir yang tidak beranjak dari kisaran 5%, mulai timbul kekhawatiran bahwa potensi tersebut tidak terkelola dengan baik. Ekonomi Indonesia butuh ketepatan strategi kebijakan dalam pengelolaannya, sehingga ancaman resesi global dapat ditangkal secara cepat.

Resesi Global

Beberapa tantangan ekonomi global yang berpotensi menjadi ‘batu sandungan’ di tahun depan di antaranya adalah penurunan pertumbuhan global. Sejumlah pihak bahkan memprediksi akan terjadi resesi global pada 2020. Di luar itu terdapat persoalan tarik-ulur kepastian akhir perang dagang AS-China, dinamika politik Pemilu AS, serta potensi membanjirnya aliran hot money ke emerging market seiring lesunya sektor riil di negara-negara maju.

Sementara itu, di level nasional persoalan defisit neraca transaksi berjalan, menurunnya laju investasi yang disertai stagnasi peringkat kemudahan berusaha, serta upaya menjaga daya beli setelah berbagai kenaikan administered price seperti tarif tol, tarif listrik, iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), serta cukai rokok merupakan serangkaian tantangan yang akan menguji daya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurunnya laju perdagangan global juga telah menggerus laju pertumbuhan ekonomi global, bahkan membawa perekonomian menuju jurang resesi. Koreksi pertumbuhan ekonomi selanjutnya terjadi pada dua aktor utama pemicu perang dagang, yaitu AS dan China.

Hingga kuartal III 2019, kedua negara tersebut sama-sama mengalami pertumbuhan ekonomi yang melambat. AS yang pada kuartal III 2018 mampu tumbuh 3,1%, pada kuartal III 2019 hanya tumbuh 2,0%. Sementara China pada periode yang sama pertumbuhan ekonominya turun dari 6,5% ke 6,0%.

Baca Juga: Bahaya Doping Rupiah Bagi Ekonomi Indonesia

Jika digabungkan nilai PDB kedua negara, porsinya mencapai 35% PDB dunia, sehingga dengan menurunnya pertumbuhan di kedua negara ini akan berdampak besar ke pertumbuhan global.

Melebarnya defisit neraca transaksi berjalan menjadi tantangan utama perekonomian domestik. Akibat pelebaran defisit neraca transaksi berjalan yang diiringi perlambatan ekonomi global membuat kerentanan stabilitas ekonomi meningkat. Sungguh pun kemungkinan aliran dana-dana jangka pendek naik, namun ini dapat menjadi pemicu gejolak perekonomian jika suatu saat keluar dari Indonesia.

Sumber: Istimewa

“Dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi yang telah diuraikan tersebut INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 sebesar 4,8%,” demikian pernyataan INDEF. Di sisi PDB pengeluaran, faktor landainya pertumbuhan konsumsi rumah tangga swasta masih menjadi tantangan utama dalam mencapai tingkat pertumbuhan sesuai yang ditargetkan.

Pada bagian lain, persoalan masih lambatnya pertumbuhan investasi dan daya saing ekonomi dapat merintangi harapan kenaikan pertumbuhan ekonomi. Sementara di sisi PDB sektoral, pertumbuhan sektor industri pengolahan yang berada di bawah pertumbuhan ekonomi membuat daya dukungnya bagi penyerapan tenaga kerja formal berjalan lambat. Ditambah lagi dengan persoalan kontribusinya pada PDB yang secara konsisten menyusut dari waktu ke waktu, membuat sektor industri pengolahan tumbuh lamban. Padahal, kunci utama akselerasi pertumbuhan ekonomi salah satunya adalah sektor industri manufaktur.

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait