Sepatu Kita Letoy, Sulit Diajak Lari | Cek&Ricek
Ilustrasi: Alfiardy/Ceknricek.com

Sepatu Kita Letoy, Sulit Diajak Lari

Ceknricek.com -- Industri sepatu kita memang payah. Pada tahun lalu, ekspor alas kaki turun dua digit: 12%. Pada tahun ini, kondisi juga belum bisa diharapkan. Industri padat karya ini dapat masalah baru. Sepatu terjangkiti virus korona.

Industri alas kaki Indonesia sangat tergantung bahan baku asal China. Sudah begitu, ekspor sepatu kita juga kebanyakan ke negeri yang kini menjadi pusat serangan korona.

Direktur Eksekutif Asperindo, Firman Bakrie, menyebut China mendominasi portofolio bahan baku kain dan komponen sepatu Indonesia. Akibatnya, begitu virus korona menyerang China, pabrik sepatu Indonesia kesulitan bahan baku. “Pesanan dari China tidak kunjung datang,” ujarnya kepada Bisnis.com, belum lama ini.

Sumber: CNBC

Saat ini, sebagian pabrik mendapatkan bahan baku kain dari dalam negeri. Sebagian lagi impor dari Vietnam. Konon harga bahan baku dari dalam negeri dan Vietnam lebih mahal sekitar 20%-30%.

Selain bergantung bahan baku dari China, industri sepatu nasional juga mengandalkan pasar China. Lengkaplah penderitaan itu. Repotnya lagi, industri sepatu nasional tidak memiliki rencana mitigasi pasar selain berharap keadaan di China membaik agar daya beli Negeri Tirai Bambu kembali seperti semula. Pasar China, menurut Firman, terlalu besar sehingga sulit mencari penggantinya.

Bea Masuk

Persoalan kelangkaan bahan baku tak cuma karena serangan korona. Pemberlakuan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) sejak November 2019, juga dianggap menjadi biang kerok.

Baca juga: Napas Baru Industri Keramik

Itu sebabnya, Aprisindo meminta pemerintah turun tangan membantu mengatasi masalah ini. Tanpa dukungan pemerintah, pelaku industri lokal khawatir tidak dapat berproduksi dalam 1 bulan-2 bulan ke depan atau tidak bisa mempersiapkan suplai produk untuk periode Lebaran 2020.

Padahal, pada periode itu secara tahunan menjadi puncak pasar alas kaki dalam negeri. Kondisi itu diyakini kian menekan pelaku industri lokal, khususnya industri kecil dan menengah (IKM), yang sepanjang 2019 tertekan oleh impor produk alas kaki jadi.

Sumber: Istimewa

Menurut Firman, regulasi yang baru berlaku pada November 2019 itu membuat pelaku industri tidak bisa menyerap bahan baku tekstil impor untuk produksi. Bila melakukan impor, katanya, harga bahan baku tekstil itu melonjak signifikan dibandingkan sebelumnya.

Di sisi lain, pasokan bahan baku dalam negeri cenderung sulit dan mahal. Permintaan industri alas kaki untuk bahan baku tekstil memang seringkali beragam jenis, tetapi jumlahnya kecil. Dengan begitu, bila dipenuhi pun harga yang dikenakan oleh produsen tekstil dalam negeri sangat mahal.

Pemerintah secara resmi memberlakukan BMPTS terhadap impor TPT sejak 9 November 2019 dan berlaku selama 200 hari ke depan. Keputusan itu tertuang dalam tiga buah peraturan Menteri Keuangan (PMK), yakni PMK No.161/2019 tentang Pengenaan BMTPS Terhadap Impor Benang (Selain Benang Jahit) Dari Serat Stapel Sintetik dan Artifisial; PMK No.162/2019 tentang Pengenaan BMTPS Terhadap Impor Produk Kain;  serta PMK No.163/2019 tentang Pengenaan BMTPS Terhadap Impor Tirai (Termasuk Gorden), Kerai Dalam, Kelambu Tempat Tidur dan Barang Perabot Lainnya.

Ekspor Turun

Pada tahun ini, ekspor alas kaki rasa-rasanya sulit diharapkan bisa lebih baik dari tahun lalu. Padahal, tahun lalu ekspor sepatu sudah jeblok. Pada 2018, nilai ekspor alas kaki mencapai US$5,1 miliar. Pada tahun 2019, turun 12% menjadi sekitar US$4,4 miliar.

Baca Juga: Gas Bumi dan Perpres Angin Surga

Menurut Ketua Pengembangan Sport Shoes dan Hubungan Luar Negeri Aprisindo, Budiarto Tjandra, faktor utama penurunan yang signifikan ini adalah competitiveness. Budi menerangkan sentra industri alas kaki di Banten biayanya sudah tidak kompetitif.

Di sisi lain sentra industri alas kali di Jawa Tengah yang baru mulai berkembang tidak mampu menutup penurunan di Banten.

Sumber: Istimewa

Beberapa tahun belakangan ini memang banyak industri sepatu melakukan relokasi dari Banten ke Jawa Tengah.  Relokasi dilakukan karena  biaya buruh di sana lebih murah. Apresindo mencatat upah minimum karyawan (UMK) di dalam negeri meningkat 38 persen sepanjang 2016 - 2019.

Walaupun peningkatan UMK domestik lebih pesat dari negara-negara kompetitor, UMK di Brebes masih jauh lebih atraktif dibandingkan Qingyuan maupun Hunan yang hanya naik 17 persen dan 18 persen pada periode yang sama.

Adapun UMK Brebes pada 2019 berada di level US$129/bulan, sedangkan Qingyuan dan Hunan  masing-masing US$201/bulan dan US$174/bulan. Adapun, Vietnam yang berhasil menorehkan pertumbuhan nilai ekspor sekitar 14 persen pada 2019 memiliki UMK US$190/bulan.

Saat ini pabrik hasil relokasi di Jawa Tengah masih memasuki tahap awal produksi. Adapun tenaga kerja yang diserap baru mencapai 300 orang. "[Relokasi pabrik] di Jawa Tengah sebenarnya mendorong daya saing kami di luar. Kita harap order tambah lagi, artinya kapasitas tambah, artinya [investasi tambah]," jelas Firman.

Baca juga: Grafik Turun Bisnis Rintisan

Persaingan pasar di luar negeri memang semakin ketat. Vietnam yang memiliki kerja sama perdagangan bebas dengan Uni Eropa mencaplok market share Indonesia di pasar benua biru. "Ekspor kita ke EU turun sekitar 25%. Walaupun tahun 2019 belum efektif tapi buyer di EU sudah mengambil ancang-ancang dengan memindahkan sebagian ke Vietnam," tutur Budiarto.

Uni Eropa merupakan pasar kedua terbesar ekspor industri alas kaki Indonesia atau sebesar 34%. Pasar utama dipegang Amerika Serikat sebesar 36%.

Kendati demikian, Firman optimistis nilai ekspor dan investasi industri alas kaki pada 2020 dapat lebih baik dari 2 tahun silam. Proyeksi ini dapat terjadi jika omnibus law dan negosiasi perjanjian ekonomi komprehensif dengan Uni Eropa (EU-CEPA) rampung pada  tahun ini. “Kalau aspek-aspek positif itu bisa terealisasi, [performa industri] bisa lebih dari 2018," ujarnya.

BACA JUGA: Cek POLITIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait