Sumber: Sindonews

Pil Pahit Korban First Travel

Ceknricek.com -- Korban penipuan First Travel tak kunjung mendapat keadilan. Pada Senin (2/12) kemarin, Pengadilan Negeri (PN) Depok memutus menolak seluruh gugatan perdata yang diajukan korban jamaah First Travel. Sudah begitu, hakim memutus penggugat kasus perdata tersebut membayar biaya perkara sejumlah Rp811 ribu.

Gugatan yang diajukan para penggugat yang terdiri atas agen First Travel dan jemaah dianggap cacat formil. Kemudian, kelompok penggugat tersebut dianggap tidak mencantumkan secara jelas kerugian-kerugian yang dialami. Para penggugat dianggap tidak memiliki kedudukan sah dalam hukum untuk mewakili jemaah yang menggugat sebanyak 3.275 orang, sehingga majelis hakim menilai gugatan ini cacat formil 

Selanjutnya, gugatan atas kerugian yang totalnya mencapai Rp49 miliar juga dinilai anggota majelis hakim tidak terperinci dan jelas. Majelis hakim tidak menemukan perincian uang yang yang telah diberikan jemaah kepada penggugat. 

Pil Pahit Korban First Travel
Caption

Baca Juga: Jamaah Korban First Travel Menunggu Realisasi Ide Menteri Agama

Gugatan perdata ini diajukan oleh Anny Suhartaty, Ira Faizah, Devi Kusrini, Zuherial dan Ario Tedjo Dewanggono terhadap bos First Travel Andika Surachman dan turut tergugat Kepala Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Kepala Kejaksaan Negeri Depok. Nilai gugatan perdata sebesar Rp49 miliar. 

Pengadilan mempersilakan bagi pihak-pihak yang tidak bisa menerima putusan tersebut untuk mengajukan upaya hukum banding. Pihak penggugat diberikan waktu 14 hari untuk mengajukan banding.

Pil Pahit 

Keputusan PN Depok terbaru itu menambah deretan kekecewaan bagi korban First Travel. Sebelumnya, para korban ini sudah harus menelan pil pahit. Peradilan pidana, mulai dari PN Depok, Pengadilan Tinggi Jawa Barat, hingga Mahkamah Agung (MA) memutuskan untuk menyerahkan aset First Travel yang disita kepada negara dan bukan kepada para calon jemaah umrah yang uangnya digelapkan oleh agen perjalanan itu.

Selama masa beroperasi, sejak November 2016 sampai dengan Mei 2017, First Travel berhasil menggaet 93.295 calon jemaah umrah dengan total setoran uang pembayarannya sebesar Rp1,319 triliun. Namun, selama kurun waktu itu, First Travel hanya memberangkatkan 29.985 orang. Artinya, orang yang telah menyetor tetapi belum diberangkatkan berjumlah 33.310 orang. Keberangkatan mereka menjadi mustahil ketika First Travel dinyatakan ditutup operasinya pada 21 Juli 2017 oleh Satgas Waspada Investasi, sebuah lembaga di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Keputusan pengadilan pidana itulah yang kemudian mendorong 3.275 orang korban mengajukan gugatan perdata melawan Andika Surachman. Perkara tersebut diregistrasi di PN Depok dengan nomor Perkara 52/Pdt.G/2019/PN.Dpk.